SLEMAN, diswayjogja.id - Ancaman bencana akibat cuaca ekstrem menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sleman.
Wilayah dengan karakter geografis yang beragam, mulai dari lereng Gunung Merapi hingga kawasan padat penduduk, menuntut kesiapsiagaan yang tidak bisa bersifat reaktif semata.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan bahwa kesiapan menghadapi bencana harus dilakukan sebelum risiko benar-benar terjadi.
Menurutnya, bencana tidak pernah bisa diprediksi secara pasti, baik dari segi waktu maupun lokasi.
“Bencana memang tidak kita harapkan, tetapi kita tidak pernah tahu kapan dan di mana bencana bisa terjadi. Karena itu, kesiapsiagaan harus terus dilakukan,” katanya saat ditanya mengenai kesiapan Pemkab Sleman menghadapi potensi bencana di tengah kondisi cuaca ekstrem, Senin (12/1/2026).
BACA JUGA : Merapi Meluncur hingga 120 Kali Sehari, BPBD Sleman Pastikan Masih Aman
BACA JUGA : Cabai Sleman Turun Meski Produksi Lokal Terganggu Cuaca
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Sleman secara rutin melaksanakan berbagai bentuk persiapan, salah satunya melalui apel kesiapsiagaan bencana.
Kegiatan ini melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman serta seluruh elemen relawan kebencanaan yang tersebar di wilayah kabupaten.
Apel kesiapsiagaan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan simbolik, melainkan sebagai sarana konsolidasi kekuatan lapangan.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah memastikan kesiapan personel, jalur koordinasi, hingga respons cepat ketika bencana benar-benar terjadi.
Selain penguatan struktur penanganan bencana, Pemkab Sleman juga menaruh perhatian besar pada aspek edukasi masyarakat.
BACA JUGA : Usai Nataru, Harga Cabai di Sleman Turun hingga 15 Persen
BACA JUGA : Usai Nataru, Harga Cabai di Sleman Turun hingga 15 Persen
Ia menilai pemahaman warga menjadi faktor krusial dalam mengurangi risiko korban dan kerugian saat bencana melanda.