Hingga kini, pasien anak berusia balita itu belum menunjukkan perbaikan berarti dan masih bergantung pada ventilator untuk bertahan hidup.
Pihak RSUP Dr Sardjito terus berupaya maksimal dalam penanganan pasien. Namun, fase kritis pasien belum bisa dilewati.
“Kita tetap memohon kepada Allah, itu standar kita untuk pasien anak,” ucapnya.
Menurut dia, anak tersebut mengalami luka bakar sekitar 60 persen dengan sebagian besar di bagian depan tubuh. Kondisi itu membuat pasien harus menggunakan alat bantu pernapasan.
“Namun sebagian besar ada di area depan tubuhnya. Itu sebabnya ventilator diperlukan, supaya tidak ada komplikasi pada pernapasan. Ventilator menjadi bantuan mesin untuk pernapasan,” tuturnya.
Ia menuturkan, kondisi pasien dibandingkan saat pertama masuk rumah sakit belum menunjukkan perubahan signifikan.
“Dibandingkan saat masuk, kondisinya masih belum lebih baik. Karena sejak awal memang kritis, jadi kita lebih banyak mengistirahatkan pasien,” tambahnya.
Hingga kini, tim medis masih terus melakukan perawatan intensif secara menyeluruh.
“Artinya, sampai sekarang anak A masih bernapas dengan bantuan ventilator,” pungkasnya.
RSUP Sardjito berharap pasien dapat melewati fase kritis, meskipun proses pemulihan luka bakar parah pada anak-anak membutuhkan waktu yang panjang.
Hingga kini, RSUP Dr Sardjito belum dapat memastikan kapan pasien bisa melewati masa kritis. Pihak rumah sakit juga terus meminta doa dari masyarakat agar kondisi pasien dapat membaik.