Napak Tilas Kantor Bernas, Kenang Jejak Jurnalistik Udin
Napak Tilas Kantor Bernas, Kenang Jejak Jurnalistik Udin--FOTO : Istimewa
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Bangunan di Jalan Sudirman Nomor 52, Kota Yogyakarta, kini telah berubah menjadi kafe Kopi Nako Rumah Sangrai. Namun, tempat tersebut menyimpan sejarah panjang perjalanan pers di Yogyakarta. Di gedung inilah dahulu Harian Bernas menjalankan aktivitas jurnalistiknya, termasuk menjadi tempat terakhir wartawan Fuad Muhammad Syafrudin atau Udin menjejakkan kaki sebelum kematiannya pada 1996.
Jejak sejarah itu kembali ditelusuri melalui kegiatan walking tour bertajuk “Tribute to Udin” #1 yang digelar media alternatif Gejayan.id, Senin, 2 November 2026 sore. Kegiatan ini mengajak publik mengenal perjalanan Harian Bernas sekaligus mengenang sosok Udin, wartawan yang menjadi simbol perjuangan kebebasan pers di Indonesia.
Mantan jurnalis Bernas, Dedi H. Purwadi, memandu lebih dari 25 peserta menyusuri ruangan-ruangan yang dahulu menjadi pusat aktivitas redaksi. Selama sekitar satu jam, ia menceritakan berbagai perubahan yang terjadi di gedung tersebut.
“Ya, bangunan di barat Toko Gramedia ini memiliki kaitan historis dengan sejarah dan dinamika pers di Indonesia,” kata Dedi.
BACA JUGA : Pewarta Foto Indonesia Jogja Gelar Doa Bersama, Harapkan Lima Jurnalis dan Tiga Kru Segera Ditemukan
BACA JUGA : Jurnalis Indonesia Ditahan, Muhammadiyah Kecam Israel Cegat Misi Kemanusiaan ke Gaza
Bergabung dengan Bernas sejak 1990, Dedi menjelaskan, surat kabar tersebut merupakan media cetak lawas kedua setelah Harian Kedaulatan Rakyat (KR) yang lahir pada 1945. Setahun kemudian, Sumanang mendirikan Harian Nasional yang kemudian berganti nama menjadi Harian Berita Nasional sebelum akhirnya dikenal sebagai Harian Bernas.
Bernas menempati gedung tersebut sejak berada di bawah manajemen Kompas melalui grup Persda (Pers Daerah) pada 1990. Sebelumnya, bangunan itu merupakan kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Yogyakarta.
Saat pertama kali bekerja di sana, Dedi mendapati gedung masih direnovasi. Ruang redaksi bahkan menggunakan bekas area parkir ambulans.
“Ruang redaksinya dulu bekas tempat parkir ambulans,” kenangnya.
BACA JUGA : Jurnalisme di Era AI, Dewan Pers dan Komdigi Dorong Literasi Digital Jurnalis
BACA JUGA : PP 'Aisyiyah Dorong Media di Yogyakarta Perkuat Jurnalisme Inklusif
Peserta kemudian diajak melihat bekas ruang rapat untuk menyusun budgeting berita, ruang redaksi, hingga ruang pracetak. Di tempat itu pula berlangsung peralihan teknologi jurnalistik dari mesin ketik manual menuju komputerisasi newsroom menggunakan sistem LAN (Local Area Network).
“Tak ada lagi reporter menulis berita (di kantor masa itu) dengan mesin ketik manual,” ungkap Dedi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: