Affandi, Maestro yang Mengabadikan Gagasan dalam Lukisan dan Catatan Harian

Affandi, Maestro yang Mengabadikan Gagasan dalam Lukisan dan Catatan Harian

Affandi bukan sekadar maestro lukis yang dikenal melalui goresan ekspresif dan karya-karya yang menginspirasi dunia seni rupa. Pelukis kelahiran Cirebon itu juga meninggalkan jejak pemikiran melalui catatan harian dan sketsa yang merekam gagasan kreatif, --FOTO : Dhani Irawan-AI Generator/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Affandi bukan sekadar maestro lukis yang dikenal melalui goresan ekspresif dan karya-karya yang menginspirasi dunia seni rupa. Pelukis kelahiran Cirebon itu juga meninggalkan jejak pemikiran melalui catatan harian dan sketsa yang merekam gagasan kreatif, perjalanan hidup, hingga proses mewujudkan imajinasinya menjadi karya nyata.

Jejak kreativitas Affandi tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Memori Kolektif Bangsa (MKB) Tokoh Maestro Lukis Affandi yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman di Sajian Kembang Turi, Rabu (21/10/2026).

Kepala Museum Affandi, Novida Abbas, mengungkapkan bahwa peninggalan sang maestro tidak hanya berupa lukisan, tetapi juga catatan harian yang hingga kini masih tersimpan di museum. Arsip tersebut menjadi sumber penting untuk memahami proses kreatif dan pemikiran Affandi, sekaligus merekam perjalanan seorang seniman dalam mengembangkan gagasan menjadi karya.

”Meskipun bangsa kita malas mencatat, ada untungnya juga bahwa Pak Affandi itu agak suka mencatat,” ungkap Novida.

BACA JUGA : Menyelami Dunia Seni Lukis Bersama Pelukis Muda SMSR Yogyakarta, Dari Ekspresi Diri hingga Mix Media

BACA JUGA : Kepergian Nasirun, Sang Perupa yang Tak Pernah Berhenti Menyalakan Ruang Seni

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas Affandi tidak berhenti pada kanvas. Ia juga menuangkan gagasan dalam bentuk sketsa rancangan bangunan. Salah satunya desain rumah panggung di bawah loteng yang kini menjadi Kafe Loteng di kompleks Museum Affandi.

Menurut Novida, rancangan itu telah digambar Affandi sejak 1953 dengan bentuk yang sama seperti bangunan yang kemudian diwujudkan. Fakta tersebut memperlihatkan bagaimana gagasan visual sang maestro dapat berkembang melampaui karya lukis dan diterapkan dalam ruang yang nyata.

Museum Affandi sendiri mulai dibangun pada 1962, setelah Affandi melunasi pembelian sebidang tanah di tepian Sungai Gajah Wong yang sebelumnya dibayar secara mencicil.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa kreativitas, bagi Affandi, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan karya artistik. Ada gagasan, perencanaan, ketekunan, dan keberanian untuk mewujudkan sesuatu yang sebelumnya hanya hadir dalam pikiran dan sketsa.

BACA JUGA : Menyongsong Matahari 2026, Nasirun Hadirkan Pameran Lukisan Sarat Refleksi Hidup di Yogyakarta

BACA JUGA : Berkarya di Jogja, Manfaatkan Media Sosial, Lukisan Seniman Ini Melanglang Buana hingga Luar Negeri

Lahir di Cirebon pada 18 Mei 1907, Affandi mengembangkan gaya lukis yang bergerak dari realisme menuju ekspresionisme. Melalui karakter goresan yang kuat dan ekspresi yang khas, ia menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia.

Affandi juga terlibat dalam kelompok Lima Bandung serta berbagai kegiatan seni dan budaya pada masa perjuangan kemerdekaan. Perannya menunjukkan bahwa seni tidak hanya menjadi sarana ekspresi pribadi, tetapi juga bagian dari perjalanan kebudayaan dan sejarah bangsa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: