Gedruk Lereng Merapi, Tarian Raksasa yang Mengajak Manusia Menjaga Alam

Gedruk Lereng Merapi, Tarian Raksasa yang Mengajak Manusia Menjaga Alam

Hentakan kaki yang kuat, gerakan tubuh yang energik, serta kostum raksasa yang mencolok menjadi daya tarik kesenian Gedruk dari lereng Merapi.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Hentakan kaki yang kuat, gerakan tubuh yang energik, serta kostum raksasa yang mencolok menjadi daya tarik kesenian Gedruk dari lereng Merapi. Di balik penampilannya yang gagah dan terkadang menyeramkan, kesenian tradisional ini menyimpan pesan tentang kerusakan alam akibat ulah manusia.

Bagi penonton, pertunjukan Gedruk bukan sekadar tontonan yang menghibur. Gerakan para penarinya yang dinamis berpadu dengan kostum yang menawan mampu menghadirkan suasana meriah. Kesenian ini juga terbuka bagi berbagai kalangan, baik anak-anak, generasi muda, maupun orang dewasa.

Di balik penampilan tersebut, terselip cerita tentang sosok raksasa yang murka melihat kerusakan alam di kawasan lereng Merapi. Pesan inilah yang coba disampaikan kelompok kesenian Gedruk Merapi melalui setiap pertunjukannya.

Ketua kelompok Blegor Merapi Gedruk, Devi, menjelaskan bahwa gerakan dalam kesenian tersebut menggambarkan kemarahan sosok raksasa akibat kerusakan ekosistem yang dilakukan manusia.

“Ceritanya tentang sosok raksasa yang murka karena rusaknya alam atau ekosistem alam yang dirusak oleh manusia sendiri di kawasan lereng Merapi,” kata Devi saat ditemui dalam wawancara, Selasa (13/10/2026).

BACA JUGA : Kesenian Jawa Jadi Bahasa Pesan, Jejak Dukungan Pakubuwono VI kepada Diponegoro

BACA JUGA : Kesenian Sleman Terancam Punah, Festival Jadi Upaya Menyelamatkan Tradisi

Cerita itu membuat Gedruk tidak hanya mengandalkan kekuatan gerak dan penampilan visual. Kesenian ini juga menjadi sarana menyampaikan pesan kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan tempat mereka hidup.

Tak Mengenal Batas Usia

Di tengah perkembangan hiburan modern, Gedruk tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan dinikmati bersama. Salah satu kekuatannya terletak pada keterbukaan bagi siapa saja yang ingin terlibat dalam pelestarian seni tradisi.

Devi mengatakan, keanggotaan kelompoknya tidak dibatasi oleh usia maupun jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memiliki kesempatan untuk ikut menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.

BACA JUGA : Wayang Kulit di Mata Tom Lee Seorang Seniman Amerika Serikat, Medium Kuat untuk Menghubungkan Manusia

BACA JUGA : Seniman Teater Den Baguse Ngarso Tutup Usia, Sempat Keluhkan Dada dan Bahu Sakit Malam Sebelumnya

“Namanya kesenian, kita melestarikan seni budaya itu tidak pandang usia, tidak pandang umur. Entah itu besar kecil, cowok, cewek, tua maupun muda,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: