Antrean Pertalite Mengular Dimana Mana, Pengamat Ekonomi Ungkap Penyebabnya

Antrean Pertalite Mengular Dimana Mana, Pengamat Ekonomi Ungkap Penyebabnya

Antrean kendaraan di sejumlah SPBU yang mengisi BBM bersubsidi jenis Pertalite belakangan semakin panjang. Fenomena tersebut bahkan terlihat sejak pagi hari, dengan antrean kendaraan mulai mengular sekitar pukul 05.00 WIB.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id — Antrean kendaraan di sejumlah SPBU yang mengisi BBM bersubsidi jenis Pertalite belakangan semakin panjang. Fenomena tersebut bahkan terlihat sejak pagi hari, dengan antrean kendaraan mulai mengular sekitar pukul 05.00 WIB dan kembali padat pada siang hingga sore hari.

Kondisi ini menjadi fenomena menarik karena terjadi dalam sekitar dua bulan terakhir, sementara tidak terdapat isu kenaikan harga BBM bersubsidi yang sedang berkembang. Bahkan, antrean tidak hanya didominasi sepeda motor cc kecil, tetapi juga terlihat kendaraan roda dua dengan kapasitas mesin besar turut mengantre di jalur Pertalite.

Pengamat ekonomi dan akademisi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Dr. Y. Sri Susilo, menilai fenomena tersebut berkaitan erat dengan perbedaan harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi.

Menurutnya, harga Pertalite yang berada di kisaran Rp10.000 per liter jauh lebih rendah dibandingkan Pertamax yang mencapai sekitar Rp15.950 per liter. Selisih harga yang cukup lebar tersebut membuat masyarakat cenderung memilih BBM bersubsidi.

BACA JUGA : Efek Domino Kenaikan Pertamax, Antrean Pertalite Mengular di SPBU

BACA JUGA :  Pertamina Pastikan Stok Pertalite DIY Aman Meski Harga Pertamax Naik, Cadangan Capai 12 Kali Konsumsi Harian

"Mayoritas masyarakat atau konsumen BBM, baik sepeda motor maupun mobil, tentu akan memilih membeli Pertalite ketimbang Pertamax. Suatu keputusan yang rasional," ujar Sri Susilo saat diwawancarai, Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, pilihan konsumen tersebut merupakan respons ekonomi yang wajar karena masyarakat akan mempertimbangkan harga ketika menentukan jenis BBM yang digunakan.

Kondisi itu kemudian berdampak pada meningkatnya permintaan terhadap Pertalite di SPBU. Ketika jumlah konsumen yang memilih BBM bersubsidi meningkat, antrean di jalur Pertalite pun semakin panjang.

"Hal itulah yang menjadikan antrean panjang di SPBU, khususnya di jalur Pertalite," katanya.

BACA JUGA : Inflasi Kota Yogyakarta Juni 2026 Capai 0,46 Persen, Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Penyebab Utama

BACA JUGA : Dampak BBM Naik, Pemda DIY Selektif Gunakan Kendaraan Dinas demi Jaga Pelayanan Publik

Sri Susilo memperkirakan antrean panjang tersebut masih berpotensi terjadi apabila kesenjangan harga antara Pertalite dan Pertamax tetap lebar. Terlebih, konsumen kendaraan dengan kapasitas mesin lebih besar juga memiliki insentif ekonomi untuk memilih BBM bersubsidi selama masih dapat mengaksesnya.

Ia menyebut terdapat sejumlah alternatif kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengendalikan konsumsi Pertalite. Salah satunya dengan memperketat pembatasan konsumen berdasarkan kapasitas mesin kendaraan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: