Ekosistem AI di Laptop Makin Canggih, Kini Bisa Berjalan Tanpa Internet
ASUS Indonesia memperkenalkan ekosistem laptop berbasis AI yang dapat memproses sejumlah fitur secara lokal tanpa internet, didukung NPU hingga 80 TOPS dan Virtual Assistant Omni.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi hanya mengandalkan layanan berbasis cloud dan koneksi internet. ASUS Indonesia menyebut kini ekosistem laptop dengan kemampuan AI yang dapat diproses secara lokal, termasuk menjalankan chatbot tanpa harus selalu terhubung ke internet.
Technical Public Relations ASUS Indonesia, Adrian Pradipta, mengungkapkan kemampuan AI pada laptop ASUS didukung oleh Neural Processing Unit (NPU) yang menjadi bagian khusus untuk menangani beban kerja kecerdasan buatan.
"AI itu datang dari chip yang baru. Chipnya namanya NPU. Dulu sebelum ada NPU, kita tahunya CPU dan GPU saja. Sekarang ada satu chip fisik yang baru namanya NPU," kata Adrian di Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Selasa (15/9/2026).
Dia menjelaskan, kemampuan NPU pada sejumlah laptop ASUS mencapai lebih dari 50 TOPS. Bahkan, beberapa varian yang menggunakan prosesor Snapdragon X2 Elite disebut mampu mencapai hingga 80 TOPS. Kemampuan tersebut memungkinkan pemrosesan AI dilakukan langsung di perangkat atau secara lokal, sehingga tidak seluruh pekerjaan harus dikirim ke server melalui internet.
BACA JUGA : Target Ekonomi 8 Persen, Menko Airlangga Tekankan Hilirisasi hingga Teknologi AI
BACA JUGA : Film Diponegoro Hero Gunakan Teknologi AI, Jadi Tontonan Spesial Hari Pahlawan di Yogyakarta
Salah satu fitur yang diperkenalkan di antaranya ASUS Virtual Assistant Omni. Adrian mengatakan, aplikasi tersebut memungkinkan pengguna berinteraksi dengan chatbot AI tanpa harus terkoneksi internet.
"Kita juga bikin program namanya Virtual Assistant yang uniknya kita enggak perlu online untuk pakai itu. Fungsinya sama, tapi kita bisa lakukan itu tanpa koneksi internet," ujarnya.
Menurut Adrian, sistem tersebut tetap mendapatkan pembaruan ketika perangkat terhubung dengan internet. Setelah pembaruan model diterima, fitur AI tersebut dapat digunakan kembali dalam kondisi offline.
"Kalau ada update akan tarik ketika online. Tapi begitu sudah di-update, dia mau online atau offline dia tidak akan tarik. Nanti tunggu update lagi, baru nanti dia akan tarik lagi datanya ketika online lagi," jelasnya.
BACA JUGA : Jurnalisme di Era AI, Dewan Pers dan Komdigi Dorong Literasi Digital Jurnalis
BACA JUGA : Saat Teknologi AI Bisa Pantau Isu Publik, Bukti Kecerdasan Buatan Indonesia Masuki Tahap Baru
Dengan mekanisme tersebut, pemrosesan AI lokal disebut dapat memberikan alternatif bagi pengguna yang membutuhkan privasi data sekaligus tetap ingin menggunakan fitur AI ketika tidak memiliki koneksi internet.
Adrian juga menjelaskan bahwa model AI tersebut tidak bekerja seperti ensiklopedia yang sekadar menyimpan kumpulan data. Sistem menggunakan model dan logika yang diperbarui secara berkala.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: