Kenduri Air Hujan, Tradisi Menghormati Air dan Menjaga Alam

Kenduri Air Hujan, Tradisi Menghormati Air dan Menjaga Alam

Tradisi Kenduri Air Hujan di Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman--FOTO : Dhani Irawan / diswayjogja id

SLEMAN. diswayjogja.id – Air hujan tidak sekadar dipandang sebagai berkah yang turun dari langit. Bagi Komunitas Banyu Bening, hujan juga menjadi pengingat tentang tanggung jawab manusia menjaga alam dan memastikan air tetap tersedia bagi seluruh makhluk hidup.

Pesan tersebut disampaikan dalam tradisi Kenduri Air Hujan, di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik. Tradisi ini  menjadi ruang doa sekaligus refleksi atas berbagai persoalan lingkungan, krisis air, dan bencana yang terjadi di berbagai daerah.

Sri Wahyuningsih kepada Disway Jogja, Rabu (9/9/2026), mengatakan kegiatan tersebut diawali dengan doa bersama sebagai bentuk keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang terjadi.

“Harapannya dengan adanya kegiatan ini masyarakat terbangun kesadarannya untuk kemudian memulai. Kita perlu melakukan sesuatu, upaya agar semua ini segera berakhir. Salah satunya dengan doa bersama,” kata Sri.

BACA JUGA : Kekeringan Mengancam, Guru Besar UGM Dorong Warga Hidupkan Lagi Budaya Panen Air Hujan

BACA JUGA : Revitalisasi Drainase Kotagede, Pemkot Gelontorkan Rp3 Miliar Bangun Saluran Air Hujan dan Sumur Resapan

Menurutnya, salah satu simbol penting dalam prosesi tersebut adalah rebutan air. Simbol itu menggambarkan kondisi ketika masyarakat di berbagai tempat mulai menghadapi persoalan keterbatasan air.

“Air itu hak publik. Itu adalah simbol bahwa air itu untuk semua makhluk Tuhan di bumi, tidak terkecuali manusia,” ujarnya.

Sri menilai pengelolaan air hujan dapat menjadi salah satu solusi menghadapi persoalan air. Menurut dia, masyarakat perlu belajar menampung dan memanfaatkan air hujan ketika musim penghujan untuk menghadapi kebutuhan saat kemarau.

“Ketika kita mengelola air hujan dengan baik, maka problema air ini sebetulnya bisa diselesaikan, pelan tapi pasti,” jelasnya.

BACA JUGA : GKR Bendara Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air Tanah, Dorong Pemanfaatan Air Hujan

BACA JUGA : Ketersediaan Air Bersih Mulai Sulit Melanda Sejumlah Wilayah Bantul, Warga Terpaksa Beli Air Tangki

Prosesi Kenduri Air Hujan diawali doa keselamatan, kemudian peserta mengelilingi panggung sebanyak tujuh kali. Angka tujuh dimaknai sebagai simbol pertolongan.

“Harapannya pagi ini dimulai adanya pertolongan dari Yang di Atas agar semua masalah ini segera berakhir,” katanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: