Pengangguran Sarjana Tembus 1,03 Juta, Guru Besar UGM Dorong Program “Sarjana Bertransmigrasi”

Pengangguran Sarjana Tembus 1,03 Juta, Guru Besar UGM Dorong Program “Sarjana Bertransmigrasi”

Pengangguran Sarjana Tembus 1,03 Juta, Guru Besar UGM Dorong Program “Sarjana Bertransmigrasi”--FOTO : Ist/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id — Jumlah pengangguran berlatar belakang pendidikan tinggi di Indonesia menjadi perhatian serius. Berdasarkan data yang ada, lulusan Diploma IV hingga jenjang S3 yang belum bekerja mencapai sekitar 1,03 juta orang atau 14,3 persen dari total pengangguran nasional.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam menyelaraskan sistem pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja. Persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi dinilai membutuhkan terobosan kebijakan, tidak hanya dengan memperluas lapangan kerja di perkotaan.

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Suherman, menilai salah satu persoalan dalam sistem pendidikan tinggi saat ini adalah kecenderungan perguruan tinggi negeri (PTN) menerima mahasiswa baru dalam jumlah besar.

Menurutnya, kondisi tersebut turut memberikan tekanan bagi perguruan tinggi swasta (PTS) dalam mempertahankan jumlah mahasiswa.

BACA JUGA : Ratusan Mahasiswa Gelar Aksi “81 Tahun Merdeka atau Menderita?” di Boulevard UGM

BACA JUGA : Samben Library, Perpustakaan Kecil yang Diam-Diam Jadi Tujuan Mahasiswa S2, S3 hingga Peneliti Mancanegara

“Kalau sistem pendidikan saat ini, terutama di level PTN/PTS, isu besarnya tentang kecenderungan PTN mengambil mahasiswa baru dalam jumlah sangat besar sehingga PTS kesulitan menjaga jumlah mahasiswanya,” kata Prof. Suherman, kepada Disway Jogja, Jumat (21/8/2026).

Di sisi lain, persoalan pengangguran lulusan perguruan tinggi menurutnya membutuhkan kebijakan yang lebih inovatif. Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah membuka peluang bagi sarjana muda untuk ikut mengembangkan kawasan transmigrasi baru.

Prof. Suherman mengusulkan program yang disebut “Sarjana Bertransmigrasi”. Program tersebut dapat menyasar para sarjana baru, misalnya lulusan dalam lima tahun terakhir, yang telah menikah dan bersedia membangun kehidupan baru di kawasan transmigrasi.

“Kalau masalah pengangguran, sebetulnya memang perlu terobosan. Misalnya saya pribadi ketika pemerintah juga sedang menggenjot masalah ketahanan pangan, cetak sawah dan ladang produktif baru di beberapa lokasi seperti Kalimantan, Papua dan lainnya, maka ada peluang meluncurkan program ‘Sarjana Bertransmigrasi’,” ujarnya.

BACA JUGA : Nyaris Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Kuliah dengan UKT Bersubsidi, Ada yang Kuliah Gratis 100 Persen

BACA JUGA : Mahasiswa Baru UGM Wajib Kenalan dengan Pak RT dan Ibu Kos, Ini Tujuan PIONIR 2026

Melalui program tersebut, para sarjana tidak hanya ditempatkan sebagai pencari kerja, tetapi diarahkan menjadi bagian dari pengembangan kawasan baru. Pemerintah dapat memberikan peluang sekaligus insentif khusus bagi peserta program.

Menurut Prof. Suherman, insentif bagi “Sarjana Bertransmigrasi” perlu dibedakan dengan pola transmigrasi reguler. Hal itu penting untuk menarik minat lulusan perguruan tinggi sekaligus memberikan ruang bagi mereka mengembangkan potensi di daerah tujuan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: