Kategori Sastra Klasik dan Modern Tetap Paling Diminati Pembaca di Perpustakaan Bantul

Kategori Sastra Klasik dan Modern Tetap Paling Diminati Pembaca di Perpustakaan Bantul

Karya sastra terutama novel baik klasik maupun modern tetap yang paling diminati pembaca di Perpustakaan Bantul--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

BANTUL, diswayjogja.id — Buku sastra, khususnya novel, masih menjadi salah satu koleksi yang banyak diminati masyarakat di Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul. Menariknya, minat pembaca tidak hanya tertuju pada novel-novel populer dan karya sastra kekinian, tetapi juga karya-karya sastra lama atau klasik.

Pustakawan Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul, Kristiyani, mengatakan berdasarkan data pemanfaatan koleksi, buku sastra termasuk salah satu kategori yang banyak dicari masyarakat.

“Yang banyak diminati itu biasanya sastra, kemudian teknologi tepat guna, keterampilan, dan buku agama,” ujar Kristiyani kepada diswayjogja, kemarin.

Untuk kategori sastra, novel menjadi salah satu koleksi yang paling sering dicari. Pembaca muda umumnya tertarik pada novel-novel populer, sementara karya sastra lama kembali banyak dicari ketika dibutuhkan untuk mengerjakan tugas sekolah maupun membuat resensi.

“Kalau mereka juga sering cari novel-novel karya lama biasanya berdasarkan tugas sekolah maupun penelitian,” kata Kristiyani.

BACA JUGA : Bukan Sekadar Buku, Perpustakaan Bantul Ciptakan Ruang Nyaman agar Warga Jatuh Cinta pada Literasi

BACA JUGA : Perpustakaan Sleman Selamatkan Naskah Kuno dan Dorong Literasi Sekolah, Kolaborasi dengan Kraton Yogyakarta

Sejumlah karya sastra klasik masih menjadi rujukan pembaca, termasuk karya-karya yang telah lama dikenal dalam dunia sastra Indonesia seperti karya Pramodya Ananta Toer, Bumi dan Manusia. Keberadaan koleksi tersebut membuat perpustakaan tidak hanya menjadi tempat mencari bacaan hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal kembali karya sastra dari berbagai generasi.

Perpustakaan Bantul juga menyimpan koleksi lama yang memiliki nilai sejarah, salah satunya buku berbahasa Belanda yang berkaitan dengan persoalan pertanahan. Koleksi tersebut menjadi bagian dari kekayaan literasi yang tersimpan di perpustakaan.

Di tengah kuatnya perkembangan bacaan digital, tetap dicari dan dibacanya karya sastra lama menunjukkan bahwa buku klasik masih memiliki tempat di kalangan pembaca. Bagi sebagian masyarakat, karya tersebut bukan hanya bacaan, tetapi juga sumber pengetahuan dan bahan pembelajaran.

Perubahan kebiasaan membaca akibat perkembangan teknologi, keberadaan pembaca yang masih mencari karya sastra lama menjadi sinyal bahwa buku cetak belum sepenuhnya kehilangan peminat. Sastra klasik tetap menemukan pembacanya, terutama ketika karya tersebut dibutuhkan untuk pembelajaran, penelitian, maupun sekadar mengenal kembali karya-karya yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan sastra Indonesia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: