Konferensi Internasional UMY Bahas Perdamaian Dunia, Dubes Michael Trias Sebut Pentingnya Religious Diplomacy
Konferensi Internasional UMY 2026 menghadirkan Dubes Michael Trias Kuncahyono (tengah), Rabu (5/8/2026), yang menekankan pentingnya religious diplomacy sebagai solusi membangun perdamaian dunia di tengah meningkatnya konflik global berbasis agama, budaya.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id
BANTUL, diswayjogja.id - Diplomasi berbasis agama atau religious diplomacy dinilai semakin penting dalam menjawab berbagai konflik global yang kini tidak lagi sekadar dipicu persoalan batas wilayah maupun perebutan sumber daya alam.
Konflik berlatar belakang agama, budaya hingga identitas membuat pendekatan diplomasi konvensional dinilai perlu dilengkapi dengan pendekatan yang lebih humanis.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBPP) Michael Trias Kuncahyono menyebutkan dinamika geopolitik dunia telah berubah sehingga penyelesaian konflik membutuhkan pendekatan baru yang mampu membangun kepercayaan antarbangsa.
"Sekarang problem internasional makin beragam. Konflik bukan hanya karena perbatasan atau perebutan sumber daya, tetapi juga karena budaya, agama, dan berbagai faktor lainnya. Pada dasarnya semua orang ingin damai dan semua agama mengajarkan perdamaian. Karena itu diperlukan religious diplomacy," ujarnya dalam Konferensi Internasional UMY bertajuk Driving Sustainable Development Through Innovation and Resilience di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Bantul, Rabu (5/8/2026).
BACA JUGA : Pakar HI UMY Nilai Diplomasi Prabowo Terjebak FOMO dan Narasi Antek Asing
BACA JUGA : Masjid Salamad di Vietnam Selatan Jadi Simbol Diplomasi Harmoni Beragama Indonesia
Michael menjelaskan, diplomasi agama berlandaskan nilai keadilan (justice), perdamaian (peace), dan kepercayaan (trust). Oleh sebab itu, seorang diplomat juga perlu memiliki literasi keagamaan agar mampu memahami berbagai perspektif dalam membangun komunikasi lintas budaya dan lintas agama.
"Seorang diplomat tidak harus menjadi pemimpin agama, tetapi harus memahami agama dan literaturnya sehingga dalam setiap diplomasi bisa mengedepankan nilai-nilai yang diinginkan semua orang, yaitu perdamaian, keadilan, toleransi, dan kebersamaan," katanya.
Michael mengingatkan bahwa Indonesia telah lama memperkenalkan pendekatan interfaith dialogue melalui Kementerian Luar Negeri. Dialog lintas agama tersebut bukan untuk menyeragamkan keyakinan, melainkan membangun keterbukaan dalam menerima perbedaan.
"Interfaith dialogue bukan memaksakan orang berpindah keyakinan, tetapi membuka pikiran agar bisa menerima perbedaan. Kita berbeda, tetapi tetap bisa berjalan bersama," jelasnya.
BACA JUGA : Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Muhammadiyah Serukan Hentikan Eskalasi Konflik
BACA JUGA : Konflik Iran vs AS-Israel, Guru Besar UGM Nilai Indonesia Sulit Jadi Penengah
Menurut Michael, situasi global saat ini menunjukkan tidak adanya figur yang benar-benar menjadi pemimpin dunia karena setiap negara besar memiliki kepentingannya masing-masing.
Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok hingga negara-negara Eropa disebut tengah disibukkan dengan persoalan geopolitik dan kepentingan nasional masing-masing. Karena itu, dia menilai tokoh agama memiliki posisi penting sebagai pengingat moral bagi para pemimpin dunia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: