Kepergian Nasirun, Sang Perupa yang Tak Pernah Berhenti Menyalakan Ruang Seni
Kepergian Nasirun, Sang Perupa yang Tak Pernah Berhenti Menyalakan Ruang Seni--FOTO : Ist/diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu sosok paling berpengaruh. Perupa senior Nasirun meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.58 WIB di usia 60 tahun. Kepergian seniman yang dikenal lewat karya-karya yang memadukan tradisi, spiritualitas, dan kritik sosial itu meninggalkan duka mendalam bagi komunitas seni, khususnya di Yogyakarta yang selama puluhan tahun menjadi rumah perjalanan kreatifnya.
Bagi Disway Jogja, kabar duka tersebut sekaligus membangkitkan kenangan akan pertemuan terakhir dengan Nasirun saat menghadiri pembukaan Art Exhibition Yogyakarta ke-9. Dalam kesempatan itu, Nasirun hadir sebagai salah satu pemrakarsa sekaligus memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan pameran yang telah sembilan tahun konsisten menjadi ruang apresiasi, kolaborasi, dan dialog bagi para pelaku seni rupa. Bahkan dalam kesempatan ini Nasirun berbicara banyak hal terkait sudut pandang seni hampir selama 30 menit.
Nasirun hadir bersama penulis Karen Hardini. Kehadiran keduanya menjadi penyemangat bagi para seniman yang berpameran dalam tema "Resonansi", yang menampilkan karya Astuti Kusumo, Anang Batas, Erica Hestu Wahyuni, Hanafi K. Sidhartha, Indira Bunyamin, Klowor Waldiyono, Liesti Yanti Purnomo, Laila Tifah, dan Retno Aris. Masing-masing menghadirkan karakter visual yang berbeda, mencerminkan kekayaan ekspresi seni rupa Indonesia.
Kabar wafatnya Nasirun pertama kali menyebar melalui berbagai komunitas seni, termasuk Lesbumi DIY. Jenazah sempat disemayamkan di Rumah Sakit Asri Medical Center (AMC) Yogyakarta sebelum dimakamkan pada Sabtu siang pukul 14.00 WIB di Pemakaman Seniman Bantul. Informasi tersebut dibenarkan oleh putrinya, Ima. Menurut keluarga, prosesi pemakaman dilaksanakan pada hari yang sama.
BACA JUGA : Menyongsong Matahari 2026, Nasirun Hadirkan Pameran Lukisan Sarat Refleksi Hidup di Yogyakarta
BACA JUGA : Menyelami Dunia Seni Lukis Bersama Pelukis Muda SMSR Yogyakarta, Dari Ekspresi Diri hingga Mix Media
Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Pada 1983 ia hijrah ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan seni dengan memilih jurusan kriya.
Baginya, memilih kriya bukan berarti mengambil jalur seni yang sederhana. Sebaliknya, kriya justru menuntut ketekunan, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam proses berkarya.
Dalam wawancara yang sama, Nasirun juga mengungkap pandangannya bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun kepemimpinan bangsa. Ia menilai Presiden Soekarno mampu menghadirkan gagasan besar di bidang seni karena memiliki nasionalisme yang kuat serta melibatkan para seniman untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam karya.
Selama perjalanan kariernya, Nasirun dikenal sebagai perupa yang konsisten mengangkat nilai-nilai budaya Nusantara, spiritualitas, serta kritik sosial melalui bahasa visual yang khas. Karya-karyanya tidak hanya dipamerkan di berbagai galeri di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara, menjadikannya salah satu nama penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.
BACA JUGA : Resonansi Jadi Tema Art Exhibition Yogyakarta Tahun Ke-9, Hadirkan Karya 9 Seniman di Hotel Gramm
BACA JUGA : Sleman Apresiasi Seniman dan Budayawan Lewat Anugerah Kebudayaan 2025
Kepergian Nasirun bukan hanya kehilangan bagi dunia seni rupa nasional, tetapi juga bagi Yogyakarta, kota yang menjadi ruang tumbuh dan pengabdian artistiknya selama lebih dari empat dekade. Sosoknya akan terus dikenang melalui jejak karya, pemikiran, serta dedikasinya dalam menjaga kehidupan seni tetap hidup dan relevan bagi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: