Toren Air Jadi Penyangga Kehidupan Warga Lereng Merapi Saat Jalur Pipa Terputus

Toren Air Jadi Penyangga Kehidupan Warga Lereng Merapi Saat Jalur Pipa Terputus

Toren Air Jadi Penyangga Kehidupan Warga Lereng Merapi Saat Jalur Pipa Terputus--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, yang berada di lereng Gunung Merapi. Untuk menjaga pasokan air tetap tersedia, warga mengandalkan sistem distribusi berbasis gravitasi dari mata air pegunungan yang dilengkapi toren penampungan berkapasitas besar sebagai cadangan ketika jaringan pipa mengalami kerusakan.

Sumber air bersih utama masyarakat berasal dari mata air Umbul Bebeng dan Umbul Wadon yang memiliki debit relatif stabil. Dari kedua sumber tersebut, air dialirkan melalui jaringan pipa menuju kawasan permukiman tanpa menggunakan pompa listrik.

Ketua Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) setempat, Supriyono, menjelaskan bahwa sistem distribusi memanfaatkan perbedaan ketinggian sehingga air mengalir secara alami menuju permukiman warga.

"Air dari Umbul Bebeng dan Umbul Wadon kami alirkan menggunakan sistem gravitasi. Sebelum sampai ke rumah-rumah warga, air ditampung terlebih dahulu di toren besar sebagai cadangan apabila sewaktu-waktu jalur pipa mengalami kerusakan," ujarnya.

BACA JUGA : Menelusuri Permata Pariwisata Jejak Keindahan dan Sejarah di Cangkringan

BACA JUGA : Hujan Lebat dan Angin Kencang Terjang Sleman, Puluhan Pohon Tumbang di Pakem dan Cangkringan

Menurutnya, jaringan pipa yang melintasi kawasan lereng Merapi, termasuk penyeberangan sungai seperti Kali Gendol, menggunakan pipa High-Density Polyethylene (HDPE) karena dinilai lebih kuat, lentur, dan mampu bertahan terhadap tekanan maupun pergerakan tanah.

Air dari pipa utama kemudian ditampung di toren komunal berkapasitas ribuan liter. Penampungan tersebut menjadi bagian penting dalam sistem penyediaan air bersih karena mampu menjaga ketersediaan air selama beberapa hari ketika aliran dari sumber terputus.

"Kalau terjadi longsor atau banjir lahar hujan yang merusak jaringan pipa, warga masih memiliki persediaan air dari toren. Setelah itu baru dilakukan perbaikan jaringan," kata Supriyono.

Dari pantauan diswayjogja di lokasi, toren utama, air selanjutnya didistribusikan melalui jaringan pipa berukuran lebih kecil menuju rumah-rumah warga maupun fasilitas umum, termasuk kawasan Hunian Tetap (Huntap).

BACA JUGA : Sambi Ledok Ecopark Pakem Sleman, Tempat Healing Keluarga dengan Nuansa Alam Lereng Merapi

BACA JUGA : Berikut Destinasi Wisata Keluarga Favorit di Lereng Merapi dan Sekitarnya

Meski demikian, tantangan penyediaan air bersih di lereng Merapi masih cukup besar. Jalur pipa yang melintasi medan terjal kerap mengalami kerusakan akibat longsor, pohon tumbang, hingga banjir lahar hujan saat musim penghujan.

Perbaikan jaringan umumnya dilakukan secara swadaya melalui gotong royong warga. Selain itu, pengelola juga memasang bak penyaring sebelum air masuk ke toren penampungan untuk mengurangi material pasir maupun lumpur yang terbawa dari kawasan hulu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: