Kirab Saparan Bekakak, Kemacetan di Jalur Wates, Pengendara Diminta Atur Perjalanan
Tradisi Saparan Bekakak yang melintasi jalan Wates berpotensi timbulkan kemacetan lalu lintas, pengendara yang melewati jalan Wates Ambarketawang harap menyesuaikan--FOTO : dok. Pemda DIY/ diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id – Arus lalu lintas di Jalan Wates, tepatnya di kawasan Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, diperkirakan mengalami kepadatan pada Jumat (17/7/2026) siang hingga petang. Kepadatan dipicu pelaksanaan tradisi budaya Saparan Bekakak, yang menggelar kirab budaya melintasi ruas Jalan Wates, salah satu jalur utama penghubung Kota Yogyakarta, Sleman, dan Kabupaten Kulon Progo.
Kirab berlangsung dari kawasan Pelem Gurih menuju Lapangan Ambarketawang dan dilanjutkan ke kawasan Gunung Gamping sebagai lokasi puncak prosesi penyembelihan bekakak. Selama kegiatan berlangsung, Satlantas Polresta Sleman bersama panitia menerapkan rekayasa lalu lintas mulai pukul 13.00 WIB hingga 18.00 WIB untuk mengurai kepadatan kendaraan.
Jalan Wates yang setiap hari menjadi jalur favorit masyarakat menuju Kulon Progo, Bandara YIA, maupun sebaliknya diperkirakan mengalami antrean kendaraan di sejumlah titik. Pengguna jalan diimbau mengatur waktu perjalanan atau memilih jalur alternatif agar terhindar dari kemacetan.
Dalam imbauannya, Satlantas Polresta Sleman menyampaikan, "Masyarakat diimbau untuk mengatur waktu perjalanan, menggunakan jalur alternatif, dan mematuhi arahan petugas di lapangan. Bersama-sama kita jaga ketertiban, kelancaran, dan keselamatan berlalu lintas selama pelestarian tradisi budaya berlangsung."
BACA JUGA : Gunungkidul Konsisten Ukir Sejarah, Rekor MURI ke-9 Mengangkat Kekayaan Budaya, Tradisi serta Potensi Lokal
BACA JUGA : Merawat Tradisi dari Balecatur, Tangan Terampil Puji Raharjo Memproduksi Blangkon Jawa
Selain pengalihan arus di sepanjang Jalan Wates, rekayasa lalu lintas juga dilakukan di sejumlah ruas jalan penyangga untuk mengurangi penumpukan kendaraan yang menuju kawasan Gamping. Petugas kepolisian ditempatkan di berbagai persimpangan guna mengarahkan pengendara menuju jalur alternatif.
Tradisi Saparan Bekakak sendiri merupakan salah satu warisan budaya tak benda khas Ambarketawang yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Upacara adat ini digelar setiap Jumat Kliwon pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa sebagai bentuk doa keselamatan bagi masyarakat. Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015.
Prosesi utama adalah mengarak bekakak, yakni boneka berbentuk sepasang pengantin yang dibuat dari tepung ketan dan gula merah. Boneka tersebut kemudian disembelih secara simbolis di kawasan Gunung Gamping. Tradisi ini berawal dari kisah wafatnya Ki Wirasuta beserta istrinya yang tertimbun longsor saat menambang batu gamping pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Untuk mengenang peristiwa tersebut sekaligus memohon keselamatan agar musibah serupa tidak terulang, Sultan memerintahkan warga menggelar slametan dengan menggunakan boneka bekakak sebagai simbol pengganti tumbal manusia.
Selain kirab bekakak, masyarakat juga menampilkan patung raksasa menyerupai genderuwo sebagai bagian dari prosesi budaya yang menjadi daya tarik ribuan warga dan wisatawan setiap tahunnya. Ramainya penonton di sepanjang rute kirab turut menjadi salah satu faktor meningkatnya kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut.
BACA JUGA : Tradisi Suran Mbah Demang Terus Lestari, Warga Banyuraden Diajak Mewarisi Sifat Luhur Mbah Demang
BACA JUGA : Surga Kuliner Pasar Atom Surabaya, Mencicipi Jajanan Tradisional dan Hits yang Enak
Masyarakat yang hendak melintas di jalur Jalan Wates pada siang hingga sore hari diharapkan dapat menyesuaikan jadwal perjalanan dan mengikuti arahan petugas demi kelancaran arus lalu lintas serta suksesnya pelestarian tradisi budaya Saparan Bekakak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

