Jejak Mataram Kuno di Klangkapan, Yoni Diduga Penanda Kawasan Subur

Jejak Mataram Kuno di Klangkapan, Yoni Diduga Penanda Kawasan Subur

Jejak Mataram Kuno di Klangkapan, Yoni Diduga Penanda Kawasan Subur--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Sebuah artefak peninggalan Mataram Kuno berupa Yoni yang kini berada di kawasan Sendang Klangkapan, Dusun Klangkapan, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, menjadi saksi bisu jejak peradaban masa lampau. Benda cagar budaya tersebut sebelumnya berada di halaman kediaman Lurah Mulyosewoyo sebelum akhirnya dipindahkan ke kawasan sendang agar lebih terjaga sekaligus dapat dikenalkan kepada masyarakat.

Dalam tradisi Hindu-Budha, lingga dan yoni merupakan satu kesatuan yang melambangkan kesuburan, keseimbangan alam, serta sumber kehidupan. Yoni berfungsi sebagai landasan lingga dan memiliki cerat sebagai saluran air suci dalam ritual keagamaan. Pada masa Kerajaan Mataram Kuno, keberadaan lingga-yoni juga kerap ditempatkan sebagai penanda kawasan yang memiliki tingkat kesuburan tinggi, terutama di wilayah pertanian.

Saat ditemui Disway Jogja di kediamannya, Kamis (16/7/2026), Konsultan Cagar Budaya dan  mantan Konservator Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Bardiyono, menjelaskan bahwa Yoni di Klangkapan menjadi petunjuk penting adanya aktivitas masyarakat pada masa Mataram Kuno.

"Dalam tradisi Hindu-Buddha, lingga dan yoni merupakan simbol kesuburan. Pada masa Kerajaan Mataram Kuno, benda ini lazim digunakan sebagai penanda kawasan yang subur. Jadi, keberadaan yoni di Klangkapan menandakan wilayah ini dahulu memiliki potensi kesuburan dan menjadi kawasan yang penting bagi kehidupan masyarakat," ujarnya.

BACA JUGA : Candi Banyunibo, Jejak Toleransi Mataram Kuno yang Kini Jadi Ruang Beragam Event Budaya di Sleman

BACA JUGA : Pengalaman Eksklusif Tur Sunrise Candi Borobudur, Menikmati Cahaya di Puncak Stupa, Cek Info Selengkapnya

Menurut Bardiyono, peninggalan di Klangkapan sejatinya merupakan satu paket lingga dan yoni. Namun, hingga kini yang masih tersisa hanyalah bagian yoninya, sedangkan bagian lingga diduga telah hilang sejak lama.

"Sebenarnya ini merupakan satu kesatuan lingga dan yoni. Lingganya kemungkinan sudah hilang karena bentuknya lebih kecil sehingga mudah dipindahkan. Kasus seperti ini cukup sering dijumpai pada berbagai situs peninggalan Mataram Kuno di Jawa," jelasnya.

Keberadaan Yoni Klangkapan memperkuat dugaan bahwa kawasan Seyegan merupakan bagian dari bentang budaya Kerajaan Mataram Kuno yang berkembang sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Selain memiliki fungsi religius sebagai simbol penyatuan unsur maskulin dan feminin yang melahirkan kehidupan, lingga-yoni juga menjadi penanda penting dalam penataan ruang pada masa itu, khususnya di kawasan yang memiliki sumber air dan lahan pertanian subur.

Kini, meski hanya menyisakan bagian yoni, artefak tersebut tetap memiliki nilai sejarah dan arkeologis yang tinggi. Keberadaannya di kawasan Sendang Klangkapan diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus menjadi media edukasi bagi masyarakat tentang jejak peradaban Mataram Kuno di wilayah Sleman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: