SD Negeri Pingit Jogja Hanya Dapat 11 Murid Baru, Kepala Sekolah: Miris, Tapi Kami Terus Berjuang

SD Negeri Pingit Jogja Hanya Dapat 11 Murid Baru, Kepala Sekolah: Miris, Tapi Kami Terus Berjuang

SD Negeri Pingit Yogyakarta hanya menerima 11 siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Kepala sekolah mengaku prihatin dengan fenomena minimnya murid di sekolah negeri dan terus mencari berbagai cara agar sekolah tetap diminati masyarakat.--FOTO: Anam AK/diswayjogja.id

YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Fenomena berkurangnya jumlah murid di sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta masih terus terjadi. Salah satunya dialami SD Negeri Pingit, Tegalrejo, yang pada tahun ajaran 2026/2027 hanya menerima 11 siswa baru, jauh di bawah kuota ideal sebanyak 28 siswa per rombongan belajar.

Meski jumlah tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya menerima tujuh siswa, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Pingit Sri Puji Haryanti mengakui kondisi tersebut tetap menjadi keprihatinan bagi sekolah negeri.

"Kalau di sini alhamdulillah tahun kemarin dapat tujuh, sekarang dapat 11. Memang ada peningkatan walaupun tidak signifikan," kata Sri Puji, Selasa (14/7/2026).

Sekolah yang berdiri sejak 1984 itu kini hanya memiliki 64 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. Seluruh jenjang hanya terdiri atas satu rombongan belajar.

BACA JUGA : Krisis Murid Hantam Sekolah Swasta di Yogyakarta, SMP Gotong Royong Tahun Ini Hanya Terima 3 Siswa Baru

BACA JUGA : Mensos Gus Ipul Targetkan Sekolah Rakyat Tampung 800 Ribu Siswa pada 2029, Gedung Permanen DIY Siap Beroperasi

Menurut Sri Puji, fenomena minimnya murid bukan hanya dialami SDN Pingit, melainkan juga banyak sekolah negeri lainnya di Kota Yogyakarta. Ia mengaku merasa prihatin melihat semakin banyak orang tua memilih sekolah swasta, khususnya yang berbasis agama.

"Kalau itu iya, terus terang memang iya. Jadi kami sendiri juga mengalami beban. Akhirnya kami sharing dengan Dinas Pendidikan bagaimana caranya supaya sekolah negeri juga mendapat murid yang sama," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pihak sekolah harus memikirkan strategi agar tetap diminati masyarakat.

"Akhirnya saya berpikir, apa yang harus saya jual dari sekolah ini? Branding sekolah ini apa? Dari situ kami mencoba bekerja sama dengan masyarakat, RT, RW, Puskesmas, KUA, sampai Kemantren supaya masyarakat kembali tertarik ke sekolah negeri," jelasnya.

BACA JUGA : Libur Sekolah Bikin KRL Jogja Penuh, KAI Tambah 4 Perjalanan Yogyakarta-Palur

BACA JUGA : 37 Daerah Rumuskan Solusi Pendidikan di KPI 2026 dan Strategi Atasi Anak Tidak Sekolah

Gotong Royong Tutupi Keterbatasan Anggaran

Di tengah jumlah murid yang minim, tantangan lain datang dari keterbatasan anggaran operasional sekolah. Dana BOS dan Bosda dinilai belum mampu menutup seluruh kebutuhan kegiatan siswa.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: