Overpopulasi Kucing di Permukiman Kian Mengkhawatirkan, Pemilik Diminta Lebih Bertanggungjawab

Overpopulasi Kucing di Permukiman Kian Mengkhawatirkan, Pemilik Diminta Lebih Bertanggungjawab

Fenomena overpopulasi kucing mulai menjadi persoalan di sejumlah kawasan permukiman di Kabupaten Sleman. --FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Fenomena overpopulasi kucing mulai menjadi persoalan di sejumlah kawasan permukiman di Kabupaten Sleman. Hewan yang awalnya dipelihara sebagai teman di rumah berkembang biak tanpa terkendali hingga memicu berbagai persoalan, mulai dari gangguan kenyamanan warga, pencemaran lingkungan, hingga potensi penyebaran penyakit.

Ketua RT 09 Padukuhan Temuwuh Lor, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Istajib Saputra, mengatakan sebagian besar persoalan berawal dari pemilik yang memelihara satu atau dua ekor kucing, tetapi tidak melakukan pengendalian reproduksi. Seiring waktu jumlah kucing terus bertambah hingga sulit dipelihara di dalam rumah.

"Awalnya hanya satu atau dua ekor sebagai hewan peliharaan. Lama-kelamaan berkembang biak dan jumlahnya semakin banyak sehingga tidak lagi bisa dikendalikan," ujarnya.

Menurut Istajib, persoalan semakin kompleks ketika kucing peliharaan dibiarkan berkeliaran di luar rumah. Kucing yang sedang birahi mengeluarkan aroma yang dapat menarik kucing liar atau kucing tanpa pemilik dari wilayah lain untuk datang ke permukiman.

BACA JUGA : Surga Pecinta Kucing, Ada Cafe Pansa 81 Sidoarjo Untuk Nongkrong Seru Bareng Kucing

BACA JUGA : Angkringan Gratis Malioboro Diserbu Warga dan Wisatawan, Ribuan Porsi Nasi Kucing Ludes Sekejap

"Walaupun kucing itu dipelihara warga, kalau dilepas bebas akan mengundang kucing luar yang tidak berpemilik datang. Saat birahi, kucing mengeluarkan bau yang bisa tercium kucing lain dari jarak cukup jauh," katanya.

Bertambahnya populasi kucing menyebabkan kotoran padat maupun urin tersebar di berbagai sudut lingkungan. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan warga karena bau menyengat, tetapi juga meningkatkan risiko munculnya penyakit apabila sanitasi tidak terjaga.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa memelihara hewan bukan sekadar memberi makan, melainkan juga memastikan kesehatannya, mengendalikan reproduksi, serta mencegah dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Pendekatan ini sejalan dengan konsep One Health, yaitu keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Kesadaran tersebut mulai didorong oleh berbagai pihak, salah satunya Bidang Kesehatan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta yang menggelar pemeriksaan kesehatan kucing gratis dalam rangka memperingati Hari Zoonosis Sedunia di halaman Gedung Muhammadiyah DIY.

BACA JUGA : Romantisme Nasi Kucing dan Angkringan Jadi Ruang Demokrasi Kuliner di Yogyakarta

BACA JUGA : Lucu! Inilah 6 Cat Cafe di Jakarta dan Sekitarnya yang Wajib Dikunjungi Para Pecinta Kucing

Ketua Bidang Kesehatan DPD IMM DIY, Afghan Azka Falah, mengatakan menjaga kesehatan kucing bukan hanya bentuk kasih sayang terhadap hewan, tetapi juga langkah penting dalam melindungi kesehatan masyarakat.

"Menjaga kesehatan kucing bukan sekadar bentuk kasih sayang terhadap hewan, tetapi juga menjadi langkah penting dalam mencegah penularan penyakit dari hewan kepada manusia atau zoonosis," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: