HUT disway jogja

Polemik Mengemuka, Warga Lereng Merapi Berharap Jalur Pendakian Dibuka Terbatas, BTNGM Tegaskan Masih Ditutup!

Polemik Mengemuka, Warga Lereng Merapi Berharap Jalur Pendakian Dibuka Terbatas, BTNGM Tegaskan Masih Ditutup!

Di tengah perbedaan pandangan tersebut, sebagian masyarakat berharap pemerintah, BTNGM, BPPTKG, pemerintah daerah, pelaku wisata, relawan, serta warga lereng Merapi dapat duduk bersama untuk mencari solusi terbaik.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Harapan masyarakat lereng Gunung Merapi untuk kembali menghidupkan perekonomian melalui wisata pendakian mulai menguat. Setelah sekitar delapan tahun tidak beroperasi, warga bersama para pemandu pendakian (guide) mengusulkan pembukaan kembali jalur pendakian secara terbatas dengan aturan yang ketat demi mengutamakan keselamatan.

Dalam pertemuan yang diunggah melalui akun media sosial Laharbara, warga dan para pemandu menyepakati rencana pembukaan jalur pendakian dengan batas maksimal hanya sampai kawasan Pasar Bubrah. Pendakian menuju puncak tetap dilarang, durasi pendakian dibatasi maksimal 24 jam, serta pemandu yang melanggar aturan akan dikenai sanksi blacklist. Menurut perwakilan masyarakat, penutupan jalur selama bertahun-tahun telah berdampak besar terhadap perekonomian warga yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari jasa pemandu, transportasi lokal, warung makan, hingga penginapan. Karena itu, mereka berharap pembukaan terbatas dapat menjadi awal kebangkitan ekonomi masyarakat lereng Merapi. Informasi tersebut disampaikan dalam laporan Disway Jogja pada 29 Juni 2026.

Di sisi lain, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menegaskan bahwa hingga saat ini seluruh jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup sampai waktu yang belum ditentukan. Penegasan tersebut didasarkan pada hasil evaluasi aktivitas vulkanik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode 19–25 Juni 2026 yang menyatakan Gunung Merapi masih berstatus Siaga (Level III). BPPTKG menyebut suplai magma masih berlangsung sehingga masih berpotensi memicu awan panas guguran maupun lontaran material vulkanik yang membahayakan aktivitas pendakian menuju puncak.

BTNGM juga menjelaskan bahwa aktivitas wisata soft trekking di beberapa lokasi, seperti Obyek Wisata Alam (OWA) Kalitalang, berbeda dengan jalur pendakian menuju puncak karena berada di luar kawasan rawan bahaya sesuai rekomendasi BPPTKG.

BACA JUGA : Delapan Tahun Mati Suri, Warga Lereng Merapi Berharap Buka Kembali Jalur Pendakian Secara Terbatas

BACA JUGA : Ramai Ajakan Buka Jalur Pendakian Merapi, TNGM: Pendakian Masih Dilarang Demi Keselamatan

Di tengah perbedaan pandangan tersebut, sebagian masyarakat berharap pemerintah, BTNGM, BPPTKG, pemerintah daerah, pelaku wisata, relawan, serta warga lereng Merapi dapat duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Mereka menilai pembukaan jalur secara terbatas dengan pengawasan ketat dapat menjadi alternatif untuk menekan pendakian ilegal sekaligus tetap mengedepankan keselamatan. Namun, hingga ada keputusan resmi dari BTNGM dan otoritas terkait, jalur pendakian Gunung Merapi masih dinyatakan belum dibuka untuk umum.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait