Pakan Burung Mahal, Stok Burung Jalak dan Perkutut Menumpuk

Pakan Burung Mahal, Stok Burung Jalak dan Perkutut Menumpuk

Harga pakan yang terus naik membuat jumlah pembeli berkurang, bahkan berdampak pada penjualan burung.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id

SLEMAN, diswayjogja.id – Karung-karung berisi milet, jagung, dan berbagai biji-bijian masih berjajar rapi di sebuah kios pakan burung di kawasan Gamping, Sleman, selasa ( 16/6/2026).

Persediaan pakan tetap tersedia, begitu pula deretan burung yang menghuni kandang-kandang di sudut kios. Namun, suasana kini tak seramai biasanya. Harga pakan yang terus naik membuat jumlah pembeli berkurang, bahkan berdampak pada penjualan burung.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan meningkatnya harga  kemasan plastik dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi harga pakan burung. Pedagang mengaku biaya kulakan dari distributor naik sehingga mereka terpaksa menyesuaikan harga jual di tingkat eceran.

Hampir seluruh jenis pakan biji-bijian mengalami kenaikan sekitar Rp2.000 per kilogram. Milet putih dan milet merah yang sebelumnya dijual Rp15.000 per kilogram kini menjadi Rp17.000 per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi pada beras merah, jagung bulat, hingga jagung cacah. Tak hanya itu, pakan produksi pabrik dalam kemasan plastik juga ikut mengalami kenaikan harga.

BACA JUGA : Mahasiswa Fakultas Peternakan UGM Borong Prestasi di Kompetisi Nasional Pakan Ternak Unhas

BACA JUGA : Gagal Curi Burung Kenari, Satu Pelaku Diamankan Warga Tempel

Widodo, pemilik kios pakan burung di Gamping, mengatakan hampir semua produk yang dijualnya mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat ikut menurun.

"Hampir semua jenis pakan burung sekarang naik harganya. Biji-bijian seperti milet, jagung, sampai beras merah naik sekitar dua ribu rupiah per kilogram. Pakan pabrikan dalam kemasan plastik juga ikut naik. Dampaknya terasa sekali, pembeli yang biasanya sekitar 25 orang sehari sekarang paling belasan, pembeli burung juga berkurang" ujar Widodo.

Menurutnya, kenaikan harga pakan membuat sebagian penghobi burung memilih mengurangi pengeluaran, bahkan menunda membeli burung peliharaan. Dampaknya, stok burung di kios semakin banyak karena penjualannya melambat.

Widodo berharap kondisi ekonomi segera membaik agar daya beli masyarakat kembali meningkat dan usaha para pedagang kecil kembali bergairah.

BACA JUGA : Digantung di Teras Rumah, Burung Murai Batu Rp150 Juta Digasak Maling di Bantul

BACA JUGA : 800 Burung Adu Merdu di Sleman, Kajari Sleman Cup 2025 Jadi Magnet Penghobi hingga UMKM

"Kami berharap kondisi ekonomi segera pulih supaya masyarakat lebih mudah mencari penghasilan. Kalau daya beli kembali naik, mudah-mudahan pembeli pakan dan burung juga kembali ramai sehingga usaha kecil seperti kami bisa kembali bergairah," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: