Selokan Mataram, Mahakarya Sultan HB IX yang Menyelamatkan Rakyat dari Romusha
Selokan Mataram ini bukan sekadar infrastruktur irigasi, melainkan juga simbol kecerdasan politik dan kepemimpinan visioner Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada masa pendudukan Jepang.--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id - Bagi masyarakat Yogyakarta, Selokan Mataram mungkin hanya dikenal sebagai saluran air yang membentang dari barat ke timur melintasi wilayah Sleman hingga Kota Yogyakarta. Setiap hari ribuan orang melintas di sampingnya tanpa menyadari bahwa saluran ini bukan sekadar infrastruktur irigasi, melainkan juga simbol kecerdasan politik dan kepemimpinan visioner Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada masa pendudukan Jepang.
Selokan Mataram dibangun pada tahun 1944 ketika Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang. Saat itu pemerintah militer Jepang sedang gencar menerapkan kebijakan romusha, yaitu pengerahan tenaga kerja paksa untuk berbagai proyek perang. Ribuan rakyat di berbagai daerah dipaksa bekerja dalam kondisi berat, bahkan banyak yang tidak pernah kembali ke kampung halamannya.
Di tengah situasi tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengambil langkah yang cerdas. Dengan alasan bahwa Yogyakarta sedang mengerjakan proyek irigasi yang sangat penting bagi ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat, Sultan berhasil meyakinkan pemerintah Jepang agar sebagian besar tenaga kerja di wilayah Yogyakarta tetap digunakan untuk pembangunan Selokan Mataram dan tidak dikirim sebagai romusha ke luar daerah.
Kebijakan ini membuat ribuan warga Yogyakarta dapat tetap berada dekat dengan keluarganya. Mereka memang bekerja keras membangun saluran irigasi, tetapi terhindar dari nasib yang jauh lebih buruk sebagai romusha di berbagai proyek militer Jepang.
BACA JUGA : Mitigasi Bencana, Komunitas Satset Jogja dan Warga Sleman Bersih-bersih Selokan Mataram
BACA JUGA : Ruang Terbuka Hijau Eks Parkir ABA Disiapkan, Sri Sultan Ingin Taman Indah Minim Beton
Di balik fungsi sosial dan politik tersebut, Selokan Mataram juga merupakan karya teknik yang mengagumkan untuk ukuran zamannya. Tidak banyak orang mengetahui bahwa hulu Selokan Mataram berada di Sungai Progo, tepatnya di wilayah barat Kabupaten Sleman. Dari sungai besar itu dibuat sebuah sidatan atau bangunan pengambilan air yang kemudian mengalirkan sebagian debit Sungai Progo ke arah tenggara menuju jalur Selokan Mataram.
Sekitar 200 meter dari titik pengambilan air utama dibangun sistem pengatur aliran berupa bendung dan pintu air bertingkat. Sistem ini memungkinkan air dialirkan ke dua arah berbeda. Jalur pertama menuju Selokan Mataram sebagai saluran irigasi utama. Jalur kedua mengembalikan air kembali ke Sungai Progo.
Fungsi bangunan ini sangat penting. Ketika debit Sungai Progo meningkat akibat hujan deras di wilayah hulu, pintu pengatur dapat diatur sehingga sebagian besar air tetap mengalir di Sungai Progo dan tidak masuk ke Selokan Mataram. Langkah ini mencegah terjadinya luapan air yang dapat menyebabkan banjir di kawasan yang dilalui selokan.
Sebaliknya, ketika dilakukan pemeliharaan atau perbaikan saluran, aliran menuju Selokan Mataram dapat ditutup sementara dan seluruh air dikembalikan ke Sungai Progo. Sistem sederhana namun efektif ini menunjukkan betapa matang perencanaan yang dilakukan para perancangnya.
BACA JUGA : Rekomendasi Restoran Sensasi Daging Juicy ala Jepang Paling Wajib Dicoba! di Jakarta
BACA JUGA : 259 Meter Irigasi Dibuka di Sleman Air Mengaliri 12 Hektare Sawah Uji Serius Swasembada Pangan dari Hulu
Selain menyelamatkan rakyat dari romusha, Selokan Mataram juga menjadi tulang punggung pertanian di Yogyakarta selama puluhan tahun. Airnya menghidupi ribuan hektare sawah di wilayah Sleman, Kota Yogyakarta, dan sebagian Bantul. Keberadaan saluran ini turut mendukung swasembada pangan pada masa-masa sulit setelah kemerdekaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: