Dari Ompreng Dapur Umum Antar Wanita Ini Bergelar Pahlawan
Seorang perempuan bernama Kusnah atau lebih dikenal sebagai Ibu Ruswo telah membuktikan bahwa makanan bisa menjadi senjata perjuangan--FOTO : Kundha Kabudayan/ diswayjogja.id
YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Di tengah polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini ramai diperbincangkan publik, ada sebuah kisah sejarah dari Yogyakarta yang mengingatkan bahwa urusan menyediakan makanan bagi banyak orang bukanlah hal sepele. Jauh sebelum negara menggelontorkan anggaran ratusan triliun rupiah untuk program makan gratis, seorang perempuan bernama Kusnah atau lebih dikenal sebagai Ibu Ruswo telah membuktikan bahwa makanan bisa menjadi senjata perjuangan.
Jika hari ini masyarakat mengenal ompreng sebagai wadah distribusi makanan dalam program MBG, lebih dari tujuh dekade lalu Bu Ruswo juga menggunakan wadah serupa untuk mengirim nasi dan lauk kepada para pejuang Republik yang gerilya melawan Belanda.
Bedanya, setiap perjalanan mengantar makanan saat itu bisa berarti mempertaruhkan nyawa.
Bu Ruswo bukanlah komandan perang, bukan pula pemegang senjata di garis depan. Namun, para gerilyawan mengenalnya sebagai "ibu" yang memastikan mereka tetap bisa makan di tengah kepungan musuh. Ketika pasukan bergerak dari satu front ke front lain di wilayah Yogyakarta, Magelang, Ambarawa hingga Semarang, dapur umum yang dikoordinasikan Bu Ruswo menjadi penopang utama logistik perjuangan.
BACA JUGA : Mama Yasinta, Dari Jalanan Aksi ke Perjuangan Menjaga Martabat Diri
BACA JUGA : Transformasi Kampung Marsinah, Mengangkat Sejarah Perjuangan Buruh Menjadi Destinasi Wisata Edukasi Nasional
Lahir di Yogyakarta pada tahun 1905 dengan nama Kusnah, perempuan yang hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas dua sekolah dasar itu tumbuh menjadi sosok organisatoris yang disegani. Ia aktif dalam berbagai organisasi kepanduan dan pergerakan perempuan sejak masa kolonial Belanda. Bahkan pada 1928, ia dipercaya membantu pengembangan organisasi kepanduan nasional di Yogyakarta.
Ketika Revolusi Kemerdekaan berkecamuk, rumah Bu Ruswo di kawasan Yudonegaran berubah menjadi pusat dapur umum. Dari tempat sederhana itulah nasi, lauk, dan berbagai kebutuhan logistik disiapkan lalu dikirim kepada para pejuang yang bertempur di berbagai front. Para perempuan Yogyakarta digerakkan untuk memasak, mengumpulkan bahan pangan, hingga mengatur distribusi makanan kepada pasukan republik.
Namun peran Bu Ruswo tidak berhenti di dapur. Ia juga dikenal sebagai kurir rahasia. Bersama suaminya, Ruswo Prawiroseno, ia membawa pesan-pesan penting bagi para pejuang. Surat-surat rahasia disembunyikan di dalam stang sepeda yang ditutup pegangan, lalu dibawa melintasi wilayah yang diawasi tentara Belanda. Dengan cara itu, informasi penting dapat dikirim tanpa menimbulkan kecurigaan.
Dalam sebuah kisah yang tercatat dalam sejarah, para prajurit yang pulang dari pertempuran pernah mengenang Bu Ruswo sebagai sosok yang selalu hadir saat mereka kelaparan. Ketika tiba di Stasiun Tugu setelah perjalanan panjang dan melelahkan, Bu Ruswo telah menunggu dengan makanan hangat untuk mereka. Bagi para gerilyawan, kehadirannya sama pentingnya dengan amunisi.
BACA JUGA : Ustaz Muhammad Jazir ASP Wafat, Muhammadiyah Kehilangan Arsitek Perjuangan Masjid Jogokariyan
BACA JUGA : Jejak Bung Karno di Blitar, Kader PDI Perjuangan Jogja Dalami Nilai Pancasila
Keberhasilannya menjaga pasokan logistik membuat Bu Ruswo memperoleh penghargaan dari Panglima Divisi III pada 1947. Setahun kemudian, kiprahnya semakin dikenal luas. Pada 1958, Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Gerilya, penghargaan yang juga diberikan kepada tokoh-tokoh besar perjuangan nasional.
Meski namanya tidak setenar para jenderal atau panglima perang, jasa Bu Ruswo diakui negara. Namanya kini diabadikan menjadi Jalan Ibu Ruswo di Kota Yogyakarta. Setelah wafat, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, tidak jauh dari makam pahlawan revolusi Yogyakarta, Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: