Menjaga Sapi Jawa Tetap Lestari, UGM Dorong Penyelamatan Populasi
Sapi Peranakan Ongole (PO) atau yang dikenal sebagai sapi Jawa semakin terancam di tengah masifnya pengembangan sapi hasil persilangan--FOTO : Dhani Irawan/diswayjogja,id
SLEMAN, diswayjogja.id – Keberadaan sapi Peranakan Ongole (PO) atau yang dikenal sebagai sapi Jawa semakin terancam di tengah masifnya pengembangan sapi hasil persilangan. Padahal, sapi lokal asli Indonesia tersebut memiliki keunggulan berupa daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis serta tingkat reproduksi yang baik.
Keprihatinan atas kondisi tersebut mendorong peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan program pelestarian plasma nutfah sapi PO bersama kelompok ternak Mergo Andhini Makmur di Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sleman.
"Sapi putih ini sangat adaptif dan mudah bunting. Namun kelemahannya ukuran tubuhnya lebih kecil dibandingkan sapi hasil persilangan, sehingga keberadaannya semakin terdesak," ujar peneliti UGM, Prof. Agung Budiyanto, Kamis (4/6).
Melalui program tersebut, tim peneliti UGM menerapkan berbagai teknologi peternakan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas sapi PO. Upaya yang dilakukan meliputi perbaikan kualitas pakan, pengelolaan reproduksi, inseminasi buatan, hingga pemanfaatan teknologi transfer embrio.
BACA JUGA : Dari Lereng Merapi, Pasutri Sleman Ingin Cetak Ribuan Peternak Baru Lewat Pelatihan Gratis
BACA JUGA : Tak Ditemukan PMK, Peternak Diminta Pastikan Hewan Kurban Sehat dan Bersertifikat
Selain itu, peternak juga mendapatkan pelatihan pembuatan pakan fermentasi berbasis bahan lokal, pemeriksaan kesehatan ternak, serta pendampingan penerapan sistem pencatatan digital berbasis QR Code untuk memantau kondisi kesehatan dan reproduksi sapi.
Menurut Agung, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan populasi sapi PO, tetapi juga memperkuat kapasitas peternak dalam mengelola usaha peternakan secara lebih modern dan efisien.
"Kami ingin menjaga agar sapi PO sebagai plasma nutfah lokal tetap lestari. Selain meningkatkan populasinya, kami juga mendorong peternak memanfaatkan teknologi agar pengelolaan ternak menjadi lebih baik," katanya.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, peternak, dan pemerintah, UGM berharap plasma nutfah sapi PO sebagai salah satu kekayaan genetik ternak lokal Indonesia dapat terus terjaga dan tidak semakin tergerus oleh dominasi sapi hasil persilangan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: