Red Devil Menguasai Waduk Sermo, Surga Ikan Air Tawar yang Kini Tinggal Kenangan

Red Devil Menguasai Waduk Sermo, Surga Ikan Air Tawar yang Kini Tinggal Kenangan

Ikan Red Devil. Red devil diketahui memangsa ikan lokal beserta telurnya. Kemampuan berkembang biak yang tinggi membuat populasinya terus meningkat dan menekan keberadaan spesies asli.--FOTO : Ist/diswayjogja.id

KULONPROGO, diswayjogja.id – Ada masa ketika Waduk Sermo menjadi surga bagi para pemancing dan pencinta kuliner ikan air tawar. Hamparan waduk yang membentang di perbukitan Menoreh itu dikenal sebagai gudangnya berbagai jenis ikan lokal. Wader, gabus, lele lokal, tawes, udang hingga mujair mudah ditemukan di perairan tersebut.

Setiap pagi dan sore, warga sekitar maupun pemancing dari luar daerah datang membawa pancing atau jala. Hasil tangkapan melimpah membuat warung-warung makan di sekitar waduk tumbuh subur. Pengunjung tak hanya menikmati panorama alam Waduk Sermo, tetapi juga berbagai sajian ikan air tawar segar hasil tangkapan nelayan setempat.

Namun cerita itu kini perlahan berubah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Waduk Sermo seakan kehilangan statusnya sebagai rumah bagi beragam ikan lokal. Perairan yang dulu kaya spesies kini didominasi satu penghuni baru yang dikenal masyarakat dengan nama ikan red devil.

BACA JUGA : “ Kampung Labi Labi” di Kulonprogo, Surga Tersembunyi Habitat Bulus Yang Masih Lestari

BACA JUGA : Penemuan Jenazah Pria 60 Tahun Gegerkan Tayuban Panjatan Kulonprogo

Bagi para pemancing, keberadaan ikan ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Jika dahulu satu kali memancing bisa mendapatkan berbagai jenis ikan lokal, kini situasinya berbeda.

"Kalau dapat sepuluh ekor ikan, sembilan di antaranya red devil," ujar salah seorang pemancing yang rutin menghabiskan waktu di Waduk Sermo.

Ikan red devil merupakan spesies invasif yang berkembang sangat cepat. Kemampuannya beradaptasi membuat populasi ikan ini terus bertambah hingga menguasai sebagian besar wilayah waduk. Akibatnya, ikan-ikan lokal semakin sulit ditemukan.

Tak hanya mengganggu aktivitas memancing, dominasi red devil juga berdampak pada sektor ekonomi masyarakat sekitar. Warung-warung yang dahulu ramai menjual olahan ikan air tawar kini banyak yang kehilangan pelanggan.

BACA JUGA : Jejak Kelezatan Malam di Manado, Berikut Empat Destinasi Kuliner Ikan Paling Lezat

BACA JUGA : Dari Hobi Mancing hingga Jadi Pengepul Utama, Suwandi Pioner Budidaya Ikan Gabus di Kulon Progo

Masalahnya bukan hanya karena jumlah red devil yang melimpah, tetapi juga karena ikan ini kurang diminati sebagai bahan konsumsi. Red devil memiliki duri yang besar dan tebal, sementara dagingnya relatif tipis sehingga tidak mudah diolah menjadi menu favorit masyarakat.

Berbagai upaya pernah dilakukan untuk memanfaatkan ikan tersebut. Salah satunya dengan mengolahnya menjadi ikan goreng crispy. Namun produk tersebut tidak mampu menarik pasar dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: