Di Imogiri Bantul, Lansia Belajar Teknik Jumputan dan Bermain Sapa Nusantara
Seorang siswa lansia dengan kursi roda sedang praktik pewarnaan. diswayjogja--Dhani Irawan
BANTUL, diswayjogja.id - Suasana penuh tawa dan semangat mewarnai kegiatan Sekolah Lansia Terpadu GINASTEL (Gerakan Gigi Sehat, Badan Kuat dengan Sekolah Terpadu Lansia) yang digelar di Joglo Pajimatan, Kalurahan Girirejo, Imogiri, Bantul, Sabtu (23/5/2026).
Sekitar 50 lansia mengikuti kelas dengan antusias dalam kegiatan yang berada di bawah binaan Puskesmas Imogiri 1 tersebut.
Tak hanya menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, para peserta kali ini juga mendapatkan pelatihan keterampilan dari mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka diajak belajar teknik pewarnaan totebag dengan metode jumputan serta mengikuti permainan edukatif “Sapa Nusantara” yang mengadopsi konsep ular tangga dengan modifikasi ramah lansia.
Kegiatan berlangsung hangat dan penuh keceriaan. Para lansia tampak menikmati setiap proses, baik saat praktik keterampilan maupun ketika mengikuti permainan kelompok yang dirancang untuk melatih interaksi sosial dan daya ingat.
BACA JUGA : Pasangan Lansia di Bantul Menjaga Tape Singkong 40 Tahun di Tengah Gempuran Zaman
BACA JUGA : Sekolah Lansia di Jogja Bertambah 11 Tahun 2026, Upaya Tingkatkan Angka Harapan Hidup
Program sekolah lansia seperti GINASTEL dinilai penting di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah lansia Indonesia terus meningkat dan diperkirakan mencapai lebih dari 20 persen populasi pada 2045. Kondisi tersebut membuat program pemberdayaan lansia berbasis kesehatan, sosial, dan aktivitas produktif semakin dibutuhkan.
Lurah Girirejo, Yuli Purwanti, menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan program GINASTEL di wilayahnya.
“Program seperti GINASTEL ini sangat positif karena membuat para lansia tetap aktif, sehat, dan bahagia. Saya melihat sendiri para peserta terlihat ceria, tertawa bersama, dan menikmati setiap kegiatan. Pemerintah kalurahan siap mendukung program-program sekolah lansia di Girirejo,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Sekolah Terpadu Lansia GINASTEL, Prasasti Bintarum, menjelaskan bahwa program tersebut telah dirintis sejak 2023 dan terus berkembang.
“Awalnya jumlah siswa lansia hanya sekitar 78 orang. Sekarang, sampai edisi di Girirejo, jumlah peserta tercatat mencapai 1.238 lansia. Kami ingin menghadirkan ruang belajar, ruang sehat, sekaligus ruang bahagia bagi para lansia agar tetap aktif dan produktif di usia senja,” jelasnya.
BACA JUGA : 474 Lansia Sleman Diwisuda, Bukti Belajar Tidak Pernah Mengenal Usia
BACA JUGA : Jambore Nasional Juang Kencana 2025 Angkat Tema Lansia Berdaya, 300 Peserta Ramaikan Yogyakarta
Menurut Prasasti, setiap kelas GINASTEL tidak hanya berisi edukasi kesehatan, tetapi juga aktivitas yang mendorong interaksi sosial dan kebugaran fisik, seperti senam lansia, permainan kelompok, hingga pelatihan keterampilan sederhana.
Ketua kelas GINASTEL edisi ke-13, Sumartono, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Tiga kali pertemuan dirinya selalu menyempatkan untuk hadir tepat waktu.
“Saya merasa sangat senang ikut sekolah lansia GINASTEL ini. Selain mendapatkan pengetahuan baru, kami juga mendapat banyak teman dan lingkungan yang menyenangkan. Harapan saya semakin banyak lansia yang ikut bergabung agar tetap sehat dan bahagia,” katanya.
BACA JUGA : Pemkot Yogyakarta Jangkau 1.169 Lansia Jompo Lewat Program Satu Kampung Satu Bidan
BACA JUGA : Nelayan Hilang di Pantai Baru Bantul Ditemukan Tewas Setelah Dua Hari Pencarian
Kehadiran GINASTEL menjadi contoh bagaimana program pemberdayaan lansia tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga membangun kebahagiaan, rasa percaya diri, dan hubungan sosial di usia lanjut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: