Tusuk Sate Bambu Lokal Keteteran, Produk China Kuasai Rak Pasar Tradisional

Tusuk Sate Bambu Lokal Keteteran, Produk China Kuasai Rak Pasar Tradisional

Persaingan produk impor ternyata tak hanya terjadi pada barang elektronik atau tekstil. Produk sederhana seperti tusuk sate bambu kini juga mulai dikuasai produk asal China, bahkan hingga pasar tradisional.--Dhani

SLEMAN, diswayjogja.id  Persaingan produk impor ternyata tak hanya terjadi pada barang elektronik atau tekstil. Produk sederhana seperti tusuk sate bambu kini juga mulai dikuasai produk asal China, bahkan hingga pasar tradisional.

Di sejumlah kios perlengkapan memasak dan bumbu di Pasar Godean, Kabupaten Sleman, tusuk sate impor tampak berjajar berdampingan dengan produk lokal. Produk asal negeri tirai bambu itu hadir dengan berbagai merek, bahkan sebagian dijual curah dan dikemas ulang oleh distributor dengan label “imported best quality”.

Menurut Etik Maemunah, pemilik kios perlengkapan memasak di Pasar Godean, tusuk sate asal China cukup diminati pembeli karena dianggap lebih rapi dan lebih banyak isi dalam setiap kemasan. Biasanya dijual kemasan 500 gram.

“Tusuk sate dari China ini juga cukup diminati, banyak yang beli,” ujar Etik, Kamis (21/5/2026).

BACA JUGA : Pasar Triliunan Rupiah, Tapi Petani RI Masih Tergantung Impor

BACA JUGA : Jelajahi Cita Rasa Negeri Tirai Bambu di Semarang, Ini Daftar 10 Restoran Chinese Food Terbaik

Etik menjelaskan, salah satu perbedaan paling mencolok antara tusuk sate lokal dan impor terlihat pada tingkat presisi ukuran. Tusuk sate impor memiliki diameter yang seragam, bentuk lebih bulat, dan permukaan lebih halus karena diproduksi menggunakan mesin modern.

Sementara produk lokal masih tampak bervariasi ukurannya karena sebagian besar diproduksi secara semi manual oleh pengrajin rumahan.

“Tusuk sate China terlihat ukurannya seragam dan jumlahnya hampir dua kali lipat dibanding tusuk sate lokal, sehingga banyak yang memilih produk China,” katanya.

Dalam kemasan 500 gram misalnya, tusuk sate impor dapat berisi jauh lebih banyak karena ukuran batangnya lebih kecil namun padat dan presisi. Meski harga sedikit lebih mahal, konsumen tetap memilih produk impor karena dianggap lebih ekonomis dan praktis untuk usaha kuliner.

BACA JUGA : Kemasan Plastik Mahal, UMKM Jogja Didorong Produksi Kemasan dari Daun dan Serat Alami

BACA JUGA : Tempat Makan Sate Lilit Terenak di Bali, Kelezatan Kuliner Otentik dengan Aroma Kelapa Bakar

Fenomena ini menjadi ironi tersendiri mengingat Indonesia merupakan negara dengan sumber daya bambu yang melimpah. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebut Indonesia termasuk salah satu negara dengan keanekaragaman bambu terbesar di dunia dengan lebih dari 170 jenis bambu tumbuh di berbagai wilayah nusantara.

Bambu selama ini menjadi bahan baku penting untuk berbagai industri rumah tangga, mulai dari kerajinan, alat dapur, hingga tusuk sate yang banyak digunakan pedagang sate, angkringan, hingga pelaku UMKM kuliner.

Namun di tengah melimpahnya bahan baku tersebut, produk tusuk sate lokal justru mulai kalah bersaing dari sisi kualitas produksi dan efisiensi industri.

Persaingan tusuk sate bambu mungkin terlihat sederhana, namun menunjukkan bagaimana produk impor mampu masuk hingga kebutuhan paling kecil di dapur masyarakat. Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi perajin dan pelaku usaha lokal untuk meningkatkan daya saing, baik dari sisi kualitas, kuantitas, maupun efisiensi produksi.

BACA JUGA : Rekomendasi Sate Paling Nampol di Bogor Dengan Bumbu Kacang Kental dan Daging Empuk

BACA JUGA : Kenal Lewat TikTok, Pria Asal Boyolali Gasak Motor Mahasiswa Sleman

Di sisi lain, masyarakat juga cenderung memilih produk yang dianggap lebih baik secara fungsi dan nilai ekonomis. Karena itu, persoalan ini bukan sekadar soal nasionalisme memilih produk lokal, melainkan bagaimana industri dalam negeri mampu menghadirkan kualitas yang benar-benar kompetitif di pasar sendiri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: