Rahasia Besar Pesantren Krapyak Cetak Tokoh Nasional dan Ulama Berpengaruh
Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta terus menjadi pusat kaderisasi ulama dan cendekiawan NU sejak 1910. KH Imam Jazuli menegaskan Krapyak sukses memadukan tradisi salaf dengan modernitas.--dok. Ponpes Krapyak
YOGYAKARTA, diswayjogja.id - Pondok Pesantren Krapyak di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus meneguhkan posisinya sebagai salah satu mercusuar keilmuan Islam terbesar di Indonesia.
Kiai muda inovatif sekaligus akademisi, KH Imam Jazuli, mengungkapkan sejak didirikan oleh KH Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad pada 15 November 1910, pesantren ini menjadi pusat kaderisasi ulama, akademisi, dan cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) yang memadukan kedalaman spiritual Al-Qur’an dengan keluasan wawasan keilmuan modern.
“Pondok Pesantren Krapyak bukan sekadar tempat mengaji, melainkan laboratorium kaderisasi ulama, cendekiawan, dan akademisi yang konsisten memadukan kedalaman spiritual Al-Qur’an dengan keluasan wawasan keilmuan kontemporer,” ujar KH Imam Jazuli, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, sejarah mencatat Krapyak sebagai pusat tahfizul Qur’an pertama di Jawa yang diakui sanad keilmuannya. Pendiri pesantren, KH M Munawwir, dikenal sebagai ulama yang mengkhususkan pengajaran Qira’at Sab’ah, sehingga menjadikan Krapyak sebagai rujukan otoritatif bagi para penghafal Al-Qur’an di Indonesia.
BACA JUGA : BEM Pesantren Seluruh Indonesia Desak Presiden Copot Menteri ESDM Imbas Krisis Energi Global
BACA JUGA : Festival WASH di Pesantren Sleman, Santri Jadi Agen Perubahan Hidup Bersih dan Sehat
Transformasi besar kemudian terjadi saat kepemimpinan dilanjutkan oleh KH Ali Maksum, menantu KH Munawwir.
“Di bawah asuhan Kiai Ali Maksum, Krapyak mengalami modernisasi sistem tanpa meninggalkan tradisi salaf. Sorogan dan bandongan tetap dipertahankan, namun dipadukan dengan model diskusi klasikal yang menjadikan pesantren ini dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman,” jelasnya.
Keberhasilan sistem pendidikan itu tercermin dari jejak alumninya yang banyak menduduki posisi strategis dalam tubuh Nahdlatul Ulama maupun panggung intelektual nasional.
Nama besar seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menimba ilmu di Krapyak. Selain itu, pesantren ini juga melahirkan tokoh-tokoh penting NU seperti KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
BACA JUGA : Dari Pesantren ke Dunia Digital, 990 Santri Sleman Meriahkan Hari Santri 2025
BACA JUGA : PP Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien Terapkan Biopori untuk Kelola Sampah Organik Pesantren
“Ini menunjukkan kesinambungan otoritas keilmuan Krapyak dalam tubuh NU, mulai dari tingkat lokal hingga nasional,” tutur Imam Jazuli.
Tak hanya dalam bidang organisasi keagamaan, Krapyak juga melahirkan akademisi berkelas internasional seperti Prof Yudian Wahyudi dan Prof Sahiron Syamsuddin, yang dikenal berhasil memadukan fiqih tradisional dengan pendekatan tafsir modern.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: