Wisata Kuliner Malam Jogja, Ini 7 Angkringan Ikonik 24 Jam Murah, Meriah, dan Penuh Inspirasi
Angkringan Lik Man--
diswayjogja.id - Yogyakarta sering kali dijuluki sebagai "Kota Kenangan," dan salah satu fragmen kenangan yang paling melekat bagi siapa pun yang pernah singgah di sini adalah budaya angkringan. Angkringan bukan sekadar gerobak kayu dengan tenda terpal sederhana; ia adalah simbol kerakyatan, kesederhanaan, dan kehangatan masyarakat Jawa. Di atas bangku panjang atau tikar lesehan, siapa saja mulai dari mahasiswa, pekerja kasar, hingga pejabat duduk berdampingan tanpa ada perbedaan status. Fenomena kuliner ini telah menjadi bagian integral dari gaya hidup masyarakat Jogja, menciptakan ruang diskusi yang cair sambil menikmati hidangan-hidangan khas yang harganya sangat ramah di kantong.
Salah satu daya tarik utama dari angkringan di Yogyakarta adalah kemampuannya untuk bertahan selama 24 jam. Di saat restoran modern mulai mematikan lampu dan menutup pintu, angkringan justru menjadi oase bagi mereka yang hidup di malam hari, para "nokturnal" yang mencari kehangatan di tengah udara dingin Jogja. Bagi para seniman lokal, penulis, dan budayawan, angkringan adalah laboratorium ide. Suasana yang santai, kepulan asap dari tungku arang, dan obrolan-obrolan filosofis yang spontan sering kali menjadi pemicu lahirnya karya-karya besar. Tak heran jika beberapa angkringan memiliki reputasi sebagai tempat berkumpulnya tokoh-tokoh kreatif kota ini.
Menu yang disajikan di angkringan mungkin tampak sederhana, namun memiliki cita rasa yang "ngangenin." Bintang utamanya adalah nasi kucing—porsi kecil nasi dengan sedikit sambal teri atau oseng tempe yang dibungkus daun pisang. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan, karena pengunjung bebas mengombinasikannya dengan berbagai macam sate-satean (sundukan), mulai dari sate usus, telur puyuh, hingga sate kulit yang dibakar dengan olesan kecap manis. Tak lupa, minuman legendaris seperti kopi joss atau wedang jahe susu menjadi pelengkap sempurna yang mampu menghangatkan tubuh sekaligus mencairkan suasana diskusi yang terkadang berlangsung hingga berjam-jam.
Dalam artikel ini, kita akan menelusuri tujuh angkringan paling ikonik di Yogyakarta yang tetap setia melayani pelanggan selama 24 jam penuh. Tempat-tempat ini dipilih bukan hanya karena kelezatan hidangannya, tetapi juga karena nilai historis dan atmosfer unik yang mereka tawarkan. Setiap angkringan memiliki cerita tersendiri tentang bagaimana mereka menjadi rumah bagi para seniman dan pusat interaksi sosial yang tak pernah padam. Mari kita selami lebih dalam dunia "Sego Kucing" dan temukan di mana saja titik-titik kumpul terbaik untuk merasakan pengalaman menjadi warga Jogja yang sesungguhnya.
BACA JUGA : Sate Kambing di Jogja Paling Enak dan Tidak Bau Prengus Jadi Destinasi Kuliner Makan Keluarga
BACA JUGA : Pilihan Nasi Kuning Enak di Jogja untuk Sarapan Kenyang, Lauk Melimpah dan Harga Ramah Kantong
Angkringan Lik Man
Berbicara tentang angkringan di Jogja tanpa menyebut Angkringan Lik Man adalah sebuah kesalahan besar. Terletak di kawasan dekat Stasiun Tugu, angkringan ini adalah salah satu yang paling legendaris dan telah berdiri sejak tahun 1960-an.
Kopi Joss
Lik Man adalah pionir dari "Kopi Joss," yaitu kopi hitam yang disajikan dengan arang membara yang dimasukkan langsung ke dalam gelas. Suara "joss" saat arang bertemu cairan kopi inilah yang menjadi asal-usul namanya. Selain memberikan aroma unik, arang ini dipercaya dapat menetralisir kafein dan memberikan manfaat kesehatan bagi pencernaan.
Titik Kumpul Seniman:
Karena lokasinya yang sangat strategis dan sejarahnya yang panjang, Angkringan Lik Man sering menjadi tempat persinggahan para tokoh seni dan budaya. Suasana di sini selalu ramai, namun tetap terasa akrab. Menikmati nasi kucing sembari melihat kereta api berlalu-lalang di kejauhan adalah pengalaman yang sangat puitis bagi banyak orang.
Angkringan KR (Pak Jabrik)
Nama Angkringan KR diambil dari lokasinya yang berada tepat di depan kantor redaksi surat kabar Kedaulatan Rakyat (KR) di Jalan Margo Utomo. Tempat ini telah lama menjadi ikon nongkrong lintas generasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: