Hanya 3 Persen Dosen Bergelar Profesor, FDGBI Soroti Tantangan Daya Saing Bangsa
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menekankan peran strategis guru besar sebagai penggerak inovasi nasional dalam Seminar dan Rapat Kerja FDGBI di UMY, Jumat (13/2/2026), minimnya jumlah profesor serta pentingnya kolaborasi riset dan kebijakan berbasis ilmu m--dok. UMY
BANTUL, diswayjogja.id - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto menekankan peran strategis guru besar sebagai penggerak utama kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi nasional.
Brian menyebut profesor sebagai guardian of values atau penjaga nilai yang diharapkan mampu melahirkan terobosan riset dan teknologi bagi kemajuan bangsa. Pemerintah, kata dia, menaruh harapan besar terhadap kontribusi perguruan tinggi dalam menghadapi berbagai keterbatasan pembangunan, termasuk keterbatasan anggaran riset.
“Bangsa kita dapat keluar dari keterbatasan jika ilmu pengetahuan dan teknologi berperan signifikan. Terobosan pemikiran baru dari para guru besar sangat dinantikan,” ujarnya dalam Seminar dan Rapat Kerja Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (13/2/2026).
Dia juga mengkritisi dikotomi antara riset dan produk teknologi yang masih terjadi di kalangan akademisi. Menurutnya, produk inovasi tidak dapat dipisahkan dari kekuatan riset sebagai fondasi utama.
BACA JUGA : Wamendiktisaintek Fauzan Ajak Kampus Aktif Atasi Kasus MBG dan Stunting
BACA JUGA : Guru Besar UMY Ungkap AI Tak Pernah Netral, Masyarakat Rentan ‘Dibohongi’ Teknologi
“Produk teknologi yang kuat lahir dari riset yang kuat. Semakin kuat riset, semakin besar peluang menghasilkan produk yang bermanfaat,” katanya.
Brian mengakui keterbatasan infrastruktur dan pendanaan riset masih menjadi tantangan. Namun, dia menekankan pentingnya kolaborasi global sebagai solusi untuk mengatasi kekurangan tersebut, disertai semangat ketekunan dan kesungguhan para peneliti.
Pihaknya juga mengajak guru besar meneladani ilmuwan peraih Nobel yang menjadikan kontribusi bagi kemanusiaan sebagai motivasi utama penelitian, bukan sekadar mengejar publikasi atau penghargaan. Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan harus dipandang sebagai panggilan pengabdian.
Sementara itu, Rektor UMY Prof. Dr. Achmad Nurmandi menyoroti minimnya jumlah guru besar di Indonesia. Dari sekitar 340 ribu dosen, hanya tiga persen yang menyandang jabatan profesor, kondisi yang dinilai mengkhawatirkan bagi penguatan kapasitas akademik dan daya saing bangsa.
BACA JUGA : Pakar Hukum UMY Soroti Lemahnya SOP Penyidikan dalam Kasus Hogi Minaya
BACA JUGA : Alumni UMY Bangun Gedung Laboratorium Rp10–15 Miliar, Beasiswa Terus Diperluas
“Guru besar sangat penting dalam meningkatkan daya saing nasional, terutama melalui pendidikan tinggi. Proporsinya yang masih kecil harus menjadi perhatian bersama,” terangnya.
Nurmandi menambahkan, dalam situasi global yang tidak stabil, keterlibatan guru besar menjadi elemen penting dalam perumusan kebijakan publik berbasis riset dan bukti ilmiah. Forum guru besar diharapkan menjadi kekuatan intelektual yang mengawal arah pembangunan nasional.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: