Pasar Gede Hardjonagoro Menelusuri Jejak Sejarah dan Surga Kuliner Solo

Pasar Gede Hardjonagoro Menelusuri Jejak Sejarah dan Surga Kuliner Solo

Pasar Gede Hardjonagoro--

diswayjogja.id – Berbicara mengenai Kota Surakarta atau yang lebih akrab disapa Solo, rasanya tidak lengkap jika belum menginjakkan kaki di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro. Sebagai salah satu ikon paling sakral di kota ini, Pasar Gede bukan sekadar tempat terjadinya transaksi jual beli, melainkan sebuah ruang saksi bisu perjalanan sejarah Jawa yang masih berdenyut kencang hingga hari ini. Terletak tepat di jantung kota, pasar ini menjadi simbol keharmonisan budaya dan ketahanan ekonomi rakyat yang telah melintasi berbagai zaman, mulai dari era kolonial hingga modernitas saat ini.

Keunikan Pasar Gede terletak pada atmosfernya yang tak lekang oleh waktu. Begitu memasuki area pasar, aroma rempah yang tajam, kepulan asap dari kuali masakan tradisional, hingga suara tawar-menawar yang ramah akan langsung menyambut para pelancong. Pasar ini memiliki daya tarik magis yang mampu membuat siapa pun merasa seolah-olah ditarik kembali ke masa lalu. Bagi masyarakat Solo, Pasar Gede adalah "ibu" yang menyediakan segala kebutuhan hidup, sementara bagi wisatawan, tempat ini adalah galeri hidup yang memamerkan kekayaan gastronomi dan arsitektur yang memukau.

Transformasi Pasar Gede menjadi destinasi wisata unggulan di Jawa Tengah tidak terjadi begitu saja. Perpaduan antara nilai historis yang kuat dengan inovasi kuliner kekinian yang muncul di lantai dua pasar telah menciptakan ekosistem wisata yang sangat dinamis. Kini, Pasar Gede bukan lagi hanya menjadi tujuan bagi para ibu rumah tangga, tetapi juga menjadi tempat nongkrong favorit bagi kaum muda, fotografer, hingga pemburu kuliner dari luar kota. Perpaduan kontras antara pedagang sayur tradisional di lantai bawah dan kafe-kafe estetik di lantai atas memberikan warna baru bagi wajah pariwisata Solo.

Keberhasilan Pasar Gede dalam mempertahankan eksistensinya juga tidak lepas dari letaknya yang strategis di kawasan yang kental dengan nuansa akulturasi. Berhadapan langsung dengan Balai Kota Surakarta dan berada di kawasan pecinan, pasar ini menjadi titik pusat perayaan berbagai festival budaya, seperti perayaan Imlek yang selalu meriah dengan ribuan lampion. Artikel ini akan mengulas secara mendalam segala sisi menarik dari Pasar Gede, mulai dari nilai sejarah arsitekturnya, daftar kuliner wajib coba, hingga destinasi sejarah lain yang berada di sekitarnya.

BACA JUGA : 5 Ragam Kuliner Lezat Menggoyang Lidah di Sekitar Stasiun Solo Balapan, Cek Daftarnya Disini

BACA JUGA : 5 Rekomendasi Kuliner Malam Solo Terbaik, Sajikan Pengalaman Kuliner Paling Menyenangkan

Sejarah

Pasar Gede Hardjonagoro memiliki latar belakang sejarah yang sangat menarik untuk disimak. Dibangun pada masa pemerintahan Pakubuwono X, pasar ini dirancang untuk menjadi pasar modern pertama di Solo pada masa kolonial Belanda. Proses pembangunannya dimulai pada akhir 1920-an dan resmi diselesaikan pada tahun 1930. Nama "Hardjonagoro" sendiri diambil dari nama seorang bangsawan keturunan Tionghoa yang dekat dengan pihak keraton, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya.

Dilihat dari sisi arsitektur, Pasar Gede adalah mahakarya dari arsitek ternama asal Belanda, Ir. Thomas Karsten. Karsten berhasil menggabungkan elemen bangunan bergaya Eropa yang megah dengan filosofi bangunan tropis yang fungsional. Hal ini terlihat dari atapnya yang tinggi dan besar, yang berfungsi sebagai sirkulasi udara alami agar bagian dalam pasar tetap sejuk meski di tengah cuaca panas. Struktur bangunannya terdiri dari dua gedung utama yang dipisahkan oleh jalan raya, memberikan kesan luas dan megah sesuai dengan namanya, "Gede" yang berarti besar dalam bahasa Jawa.

Lokasi Strategis dan Jam Operasional yang Fleksibel

Pasar Gede berlokasi di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Solo. Letaknya yang berada di seberang Balai Kota menjadikannya sangat mudah dijangkau dengan berbagai moda transportasi, mulai dari bus Batik Solo Trans (BST) hingga transportasi daring. Salah satu keunggulan pasar ini adalah jam operasionalnya yang mencapai 24 jam. Meskipun sebagian besar pedagang kebutuhan pokok beraktivitas di pagi hari, sisi kuliner malam di sekitar pasar juga tidak kalah hidup, menjadikannya destinasi yang bisa dikunjungi kapan saja.

Kawasan ini juga menjadi simbol toleransi yang kuat, di mana budaya Jawa dan Tionghoa berpadu secara harmonis. Hal ini paling terasa saat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, di mana seluruh kawasan Pasar Gede hingga Jembatan Pasar Gede akan dihiasi ribuan lampion berwarna merah yang sangat cantik. Pertunjukan barongsai dan pasar tumpah lampion menjadi momen yang paling dinantikan oleh ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Daftar Kuliner Legendaris dan Kekinian

Kesegaran Dawet Telasih Ibu Hj. Sipon

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: