Bantul Dorong Pemberdayaan Miskin agar Mandiri dan Produktif

Bantul Dorong Pemberdayaan Miskin agar Mandiri dan Produktif

Kepala Dinas Sosial Sukrisna Dwi Susanta menjelaskan strategi pemberdayaan keluarga miskin di Bantul, menekankan usaha produktif dan bantuan tepat sasaran untuk warga tidak berdaya.--Foto: Kristiani Tandi Rani/diswayjogja.id

BANTUL, diswayjogja.id – Pemerintah Kabupaten Bantul kini menekankan program pemberdayaan sebagai strategi utama dalam mengurangi kemiskinan di daerahnya. 

Langkah ini diambil untuk memastikan bantuan sosial yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Sukrisna Dwi Susanta, Kepala Dinas Sosial Bantul, mengatakan program pengentasan kemiskinan daerah ini mengacu pada tiga fokus utama yaitu pengurangan beban, pemberdayaan, dan kebijakan.

“Kalau menurut saya, sebenarnya kita lebih condong ke pemberdayaan. Dengan pemberdayaan, masyarakat bisa menjadi mandiri. Modal yang diberikan bisa dipakai untuk usaha, sehingga manfaatnya lebih awet,” katanya, Senin (12/1/2026). 

Meski begitu, bantuan sosial tetap disalurkan untuk warga yang benar-benar tidak berdaya, seperti lansia terlantar, orang yang hidup sendiri, atau janda yang anaknya sudah merantau dan tidak memiliki keluarga di sekitarnya. 

“Sementara pengurangan beban berupa bantuan sosial memang tetap dilakukan, tapi sifatnya hanya sementara,” tambahnya.

BACA JUGA : Bantul Siaga Hama Tikus di Perbatasan Sleman

BACA JUGA : Bantul Bangun 75 Gerai KDMP untuk UMKM Desa

Ia menegaskan bahwa langkah ini juga sejalan dengan amanah UUD 1945 Pasal 34, yang menegaskan bahwa negara wajib memelihara fakir miskin. 

“Ini bukan sekadar program, tapi tanggung jawab kami untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan sosial yang layak,” lanjutnya. 

Pendekatan ini tidak hanya menyalurkan bantuan bagi yang tidak berdaya, tetapi juga mendorong masyarakat miskin yang memiliki potensi untuk mengembangkan usaha mereka.

“Hampir semua agama pun menekankan kewajiban memberi perhatian pada orang miskin. Artinya, keberadaan orang miskin itu pasti ada, tidak mungkin 100% hilang,” ucapnya. 

Menurutnya, strategi Bantul menekankan pemberdayaan keluarga miskin yang masih bisa mandiri. 

“Yang tidak berdaya wajib dibantu, sementara keluarga miskin yang masih bisa diberdayakan harus diberikan kesempatan untuk mandiri,” tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: