Huntara Pascabencana Dipercepat, Pakar UGM: Keselamatan Warga Harus Jadi Prioritas

Huntara Pascabencana Dipercepat, Pakar UGM: Keselamatan Warga Harus Jadi Prioritas

Pakar UGM Prof Dwikorita Karnawati menegaskan percepatan pembangunan Huntara pascabencana banjir bandang dan longsor harus mengutamakan keselamatan warga, mitigasi bencana, pemulihan lingkungan, serta sistem peringatan dini agar rehabilitasi berjalan aman--dok. UGM

YOGYAKARTA, diswayjogja.id – Pakar kebencanaan yang juga Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dwikorita Karnawati, mengapresiasi percepatan pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. 

Pembangunan Huntara dinilai sebagai langkah penting dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana agar para pengungsi dapat segera menempati hunian yang lebih layak.

Meski demikian, Dwikorita menegaskan bahwa percepatan pembangunan fisik harus diiringi perhatian serius terhadap aspek keselamatan dan keamanan. Hal ini dinilai krusial mengingat potensi bencana susulan masih tinggi di sejumlah wilayah terdampak.

“Progres Huntara patut diapresiasi. Tetapi yang jauh lebih penting adalah memastikan seluruh penduduk, pengungsi, serta para pekerja yang terlibat dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi berada dalam kondisi aman dan mendapatkan suplai logistik yang memadai,” ujar Dwikorita dalam keterangan tertulis, Senin (5/1/2026).

BACA JUGA : Bencana Sumatra Skala Besar, Dwikorita Sebut Kapasitas Penanganan Belum Seimbang

BACA JUGA : Menelisik Penyebab dan Dampak Banjir Bandang Sumatra, Dwikorita Sebut Faktor Nonalam Perparah Bencana

Menurutnya, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan penanganan pascabencana. Ketersediaan logistik yang cukup dan akses yang lancar sangat menentukan keberlangsungan proses pemulihan sekaligus mencegah munculnya kerentanan baru di tengah masyarakat.

Dwikorita juga menekankan pentingnya memastikan bahwa rumah dan infrastruktur yang dibangun berada di lokasi yang aman. Hal ini menjadi semakin krusial karena potensi longsor, banjir bandang, dan banjir susulan masih tinggi, terlebih musim hujan diperkirakan berlangsung hingga Maret–April 2026.

“Rumah dan infrastruktur yang sudah dibangun harus dipastikan aman dari ancaman longsor dan banjir bandang. Jika aspek ini diabaikan, risiko bertambahnya korban jiwa tetap terbuka, sekaligus berpotensi memutus jaringan transportasi, distribusi logistik, serta merusak kembali infrastruktur yang sudah dibangun,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Dwikorita menegaskan bahwa upaya pencegahan dan mitigasi bencana secara permanen harus dilakukan secara paralel dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Tanpa mitigasi yang berjalan seiring, upaya pemulihan dinilai tidak akan efektif dalam jangka panjang.

BACA JUGA : Pakar UGM Ingatkan Huntap Sumatra Harus Cegah Bencana Berulang

BACA JUGA : Kerusakan Ekosistem Hulu DAS Perparah Banjir Bandang Sumatra, Ini Penjelasan Pakar UGM

Ia menyebut pemulihan kerusakan lingkungan sebagai langkah mutlak yang harus segera dilakukan karena membutuhkan waktu panjang, bahkan hingga bertahun-tahun. Kegagalan dalam pemulihan lingkungan, menurutnya, telah terbukti mempercepat periode ulang bencana dengan daya rusak yang semakin besar.

“Apabila pemulihan lingkungan tidak berhasil, periode ulang bencana bisa menjadi semakin cepat dengan magnitude yang jauh lebih dahsyat. Dalam kondisi seperti itu, seluruh langkah mitigasi yang disiapkan dapat kalah oleh daya rusak bencana,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: