Transformasi Gaya Hidup Brunch yang Kian Digemari Masyarakat Indonesia, Cek Ulasan Lengkapnya Disini
Restoran The Nineteen Jakarta--
diswayjogja.id – Gaya hidup masyarakat urban di kota-kota besar Indonesia, khususnya Jakarta, terus mengalami perubahan yang dinamis seiring dengan pengaruh tren global. Salah satu fenomena yang kini tengah mencuri perhatian adalah pergeseran pola makan di akhir pekan. Jika dulu masyarakat cenderung membagi waktu makan secara kaku antara sarapan pagi dan makan siang, kini muncul sebuah jalan tengah yang dianggap lebih santai dan prestisius. Fenomena ini memberikan warna baru bagi industri kuliner di tanah air, di mana kenyamanan dan estetika menjadi elemen yang tak terpisahkan dari sekadar rasa makanan.
Istilah "brunch" yang merupakan gabungan dari breakfast (sarapan) dan lunch (makan siang) kini bukan lagi istilah asing di telinga kaum urban. Tren ini tidak hanya membawa perubahan pada jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga pada cara orang berinteraksi dan menghargai waktu luang mereka. Di tengah padatnya rutinitas dari Senin hingga Jumat, akhir pekan menjadi momentum sakral bagi warga kota untuk melepas penat. Makan santai di pertengahan hari pun dianggap sebagai bentuk "penghargaan diri" atau self-reward setelah bekerja keras sepanjang minggu.
Pertumbuhan industri kafe dan restoran yang mengusung konsep estetik turut mempercepat penetrasi budaya ini di Indonesia. Banyak tempat makan kini mendesain interior mereka sedemikian rupa agar tampak menawan di kamera, karena bagi generasi masa kini, pengalaman bersantap belum lengkap jika tidak diabadikan di media sosial. Hal ini membuat budaya makan di luar rumah bukan lagi sekadar kegiatan biologis untuk memenuhi rasa lapar, melainkan sebuah pernyataan gaya hidup dan sarana aktualisasi diri di ruang publik.
Menariknya, Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyerap budaya barat ini. Adaptasi yang terjadi seringkali berpadu dengan tradisi lokal atau kebiasaan masyarakat setempat, seperti berkumpul setelah menjalankan ibadah atau setelah berolahraga pagi. Fleksibilitas waktu yang ditawarkan oleh konsep makan ini menjadi kunci utama mengapa banyak orang kini lebih memilih untuk melewatkan sarapan pagi demi mendapatkan pengalaman makan yang lebih lengkap dan tenang di waktu yang agak siang.
BACA JUGA : Nongrong Asik, Yuk Eksplorasi Cafe Estetik dan Hits di Kota Cimahi
BACA JUGA : Destinasi Kuliner Legendaris Yogyakarta yang Selalu Dirindukan, Cek Info Selengkapnya Disini
Memahami Akar Budaya Brunch
Secara historis, konsep brunch lahir dari kebutuhan manusia akan waktu istirahat yang lebih berkualitas pada hari Minggu. Ide dasarnya sangat sederhana: memberikan kesempatan bagi mereka yang baru saja merayakan pesta atau menghabiskan waktu hingga larut malam pada Sabtu malam untuk bisa tidur lebih lama keesokan harinya. Saat bangun, sarapan sudah terasa terlalu pagi dan terlewatkan, namun makan siang terasa terlalu berat atau memiliki batasan waktu yang kaku. Dari sinilah lahir konsep makan di waktu tanggung yang menggabungkan elemen hidangan pagi dan siang.
Di negara-negara Barat, khususnya di Amerika Serikat, budaya ini mulai berkembang pesat sejak awal abad ke-20. Brunch di sana mengalami evolusi menjadi sesi makan yang sangat modern dan beragam. Ia tidak hanya terbatas pada roti panggang atau telur, melainkan berkembang menjadi sebuah acara sosial yang mengutamakan interaksi antarmanusia dalam suasana yang santai. Estetika penyajian dan keragaman minuman, mulai dari kopi artisan hingga koktail ringan, menjadi pelengkap yang membuat sesi makan ini sangat unik dan berbeda dari makan siang pada umumnya.
Pergeseran Pola Pikir Masyarakat Urban Jakarta
Di Indonesia, khususnya Jakarta, popularitas brunch dipicu oleh perubahan pola aktivitas di hari libur. Menurut Rahmat Ismail, General Manager dari The Nineteen Jakarta, fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kini tidak ingin menyia-nyiakan waktu akhir pekan mereka dengan cara yang biasa saja. Mereka mencari pengalaman bersantap yang memberikan kesan mendalam. Jika di luar negeri alasan utamanya adalah memulihkan diri setelah pesta semalam suntuk, di Indonesia alasannya jauh lebih bervariasi dan kontekstual.
Salah satu pemicu utama di Jakarta adalah aktivitas sosial seperti ibadah Minggu pagi atau olahraga saat Car Free Day (CFD). Banyak warga yang setelah melakukan kegiatan tersebut tidak ingin langsung pulang ke rumah. Mereka membutuhkan ruang untuk melanjutkan waktu santai dengan suasana yang berkesan namun tetap fleksibel dari segi waktu. Inilah celah yang diisi oleh brunch. Budaya ini menjadi jembatan bagi mereka yang ingin menikmati waktu transisi dari pagi ke siang tanpa harus merasa terburu-buru oleh jadwal makan yang konvensional.
Menghadirkan Sentuhan New York di Meja Makan
Melihat tingginya minat tersebut, pelaku industri kuliner mulai melakukan langkah strategis untuk mengakomodir kebutuhan pasar. Restoran The Nineteen Jakarta, misalnya, memperkenalkan program bertajuk "Brunch Affair" yang secara khusus mengadaptasi gaya brunch klasik dari New York. Keputusan untuk mengadopsi gaya Amerika ini didasarkan pada fakta bahwa konsep restoran mereka memang memiliki sentuhan American New York twist yang sangat cocok dengan selera masyarakat kelas menengah atas di Jakarta yang sering mencari sesuatu yang berbeda dan modern.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: