Menelusuri Jejak Perjalanan Kuliner dan Seni di Tugu Kunstkring Paleis, Cek Info Selengkapnya Disini
Kuliner di Tugu Kunstkring Paleis--
diswayjogja.id – Menjelajahi sudut-sudut kota Jakarta sering kali membawa kita pada kejutan yang tak terduga, terutama ketika kita bersinggungan dengan bangunan-bangunan yang menyimpan memori kolektif masa lalu. Di tengah modernitas yang kian menderu, kehadiran arsitektur bersejarah bukan sekadar menjadi monumen mati yang membisu. Bangunan tersebut justru berfungsi sebagai pintu gerbang yang menghubungkan realitas masa kini dengan narasi panjang yang telah membentuk identitas kota. Memasuki gedung bersejarah memberikan sensasi emosional yang berbeda, di mana setiap sudut dinding dan langit-langit seolah membisikkan cerita tentang kejayaan dan perubahan zaman.
Bagi penikmat pengalaman kuliner, sebuah hidangan yang lezat akan terasa jauh lebih bermakna jika dinikmati dalam lingkungan yang memiliki jiwa. Fenomena fine dining di Jakarta kini tidak lagi hanya terpaku pada kemewahan modern atau pemandangan dari gedung tinggi. Ada pergeseran minat di mana masyarakat mulai mencari nilai autentisitas dan koneksi sejarah dalam setiap suapan yang mereka nikmati. Restoran yang mampu memadukan antara kelezatan gastronomi dengan pelestarian budaya menjadi destinasi yang sangat dicari, karena menawarkan perjalanan multisensori yang melampaui sekadar rasa di lidah.
Sejarah panjang Jakarta, atau yang dahulu dikenal sebagai Batavia, meninggalkan warisan arsitektur yang sangat kaya, mulai dari gaya Neoklasik hingga Art Deco. Namun, tidak semua bangunan tua beruntung bisa bertahan dan tetap relevan. Banyak di antaranya yang hancur dimakan usia atau berubah fungsi tanpa memperhatikan nilai historisnya. Oleh karena itu, upaya menghidupkan kembali bangunan tua menjadi sebuah ruang publik yang fungsional adalah sebuah langkah yang patut diapresiasi. Hal ini memungkinkan generasi muda untuk tetap bisa bersentuhan dengan akar sejarah mereka tanpa harus merasa asing atau bosan.
Salah satu permata arsitektur yang berhasil "bernapas" kembali dengan indahnya adalah Tugu Kunstkring Paleis. Berlokasi di kawasan Menteng yang prestisius, gedung ini berdiri dengan anggun, menawarkan kemegahan era kolonial yang sulit ditemukan tandingannya. Lebih dari sekadar tempat makan, lokasi ini bertransformasi menjadi museum hidup yang merayakan seni, sejarah, dan kuliner dalam satu harmoni. Melalui restorasi yang dilakukan dengan penuh ketelitian, gedung ini kini mengundang siapa saja untuk mencicipi kemewahan masa lalu sembari menikmati hidangan berkelas dunia.
BACA JUGA : Menelusuri Surga Chinese Food Halal Terbaik di Kawasan Utara Jakarta
BACA JUGA : Pilihan Destoran Bergaya Hong Kong di Jakarta Paling Memanjakan Lidah, Cek Info Selengkapnya Disini
Sejarah Megah di Balik Bataviasche Kunstkring
Bangunan yang kini dikenal sebagai Tugu Kunstkring Paleis memiliki sejarah yang sangat panjang dan berwarna. Didirikan pertama kali pada tahun 1914, gedung berlantai dua ini adalah buah karya dari arsitek ternama pada masa itu, Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Pada awalnya, gedung ini difungsikan sebagai pusat kegiatan bagi Nederlandsch Indische Kunstkring, sebuah organisasi yang menjadi wadah berkumpulnya para seniman, kolektor, dan pencinta budaya di Hindia Belanda. Nama aslinya, Bataviasche Kunstkring, merujuk pada perannya sebagai pusat kesenian utama di Batavia.
Pentingnya gedung ini dalam peta seni dunia dibuktikan dengan catatan sejarah bahwa karya-karya dari pelukis legendaris global pernah singgah di sini. Nama-nama besar seperti Vincent van Gogh, Pablo Picasso, hingga Paul Gauguin pernah memamerkan mahakarya mereka di ruang-ruang pamer gedung ini. Yang menarik, di tengah dominasi seniman internasional, sosok S. Sudjojono muncul sebagai satu-satunya seniman asli Indonesia yang karyanya diakui dan dipamerkan di tempat bergengsi ini pada masa itu. Hal ini menegaskan bahwa sejak awal berdiri, gedung ini sudah menjadi simbol prestise dan standar tinggi dalam dunia estetika.
Seiring bergantinya kekuasaan dan zaman, fungsi gedung ini pun mengalami pasang surut yang drastis. Setelah masa kolonial berakhir, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor Madjlis Islam Alaa Indonesia, kemudian beralih menjadi kantor imigrasi, hingga akhirnya sempat terbengkalai dan kehilangan pesonanya. Beruntung, pada tahun 2013, Tugu Group mengambil langkah berani untuk melakukan pemugaran besar-besaran. Di bawah pengelolaan mereka, gedung ini dihidupkan kembali dengan nama Tugu Kunstkring Paleis, mengembalikan fungsi aslinya sebagai pusat apresiasi seni sekaligus memperkenalkan konsep kuliner eksklusif.
Atmosfer Klasik yang Membawa Kembali ke Masa Lalu
Begitu kaki melangkah melewati pintu utama, pengunjung akan segera merasakan perubahan suasana yang sangat kontras dengan hiruk pikuk jalanan Jakarta. Suasana interiornya dirancang dengan sangat detail untuk menghadirkan kembali atmosfer Batavia pada awal abad ke-20. Setiap elemen dekoratif, mulai dari furnitur kayu yang kokoh, lampu gantung yang elegan, hingga ubin lantai yang klasik, dijaga keasliannya untuk mempertahankan nilai historis. Pencahayaan yang dramatis semakin memperkuat kesan misterius sekaligus mewah yang menjadi ciri khas bangunan tua berkualitas tinggi.
Di dalam Tugu Kunstkring Paleis, seni tidak hanya menjadi hiasan dinding, melainkan bagian integral dari pengalaman pengunjung. Koleksi benda seni yang tersebar di berbagai sudut ruangan bercerita tentang narasi sejarah Indonesia yang kaya. Salah satu yang paling ikonik adalah lukisan kolosal berjudul The Fall of Jawa yang ditempatkan di Ruang Pangeran Diponegoro. Lukisan raksasa dengan dimensi 9 x 4 meter tersebut menggambarkan momen krusial dalam perjuangan Pangeran Diponegoro, memberikan nuansa heroik sekaligus magis bagi siapa pun yang bersantap di bawahnya.
Gedung ini juga dibagi menjadi beberapa ruangan tematik yang masing-masing memiliki karakter unik. Pengunjung bisa memilih untuk bersantap di Multatuli Room yang kental dengan nuansa sastra, Soekarno Room yang didedikasikan untuk sang proklamator, hingga Kolonial Rijsttafel Room yang dirancang khusus untuk perjamuan gaya Belanda. Febby Okta, selaku perwakilan dari Tugu Hotels & Restaurants, menjelaskan bahwa filosofi di balik pemugaran ini adalah agar bangunan tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi menjadi tempat di mana masyarakat bisa benar-benar merasakan dan berinteraksi dengan sejarah tersebut melalui kuliner.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: